Silakan Copy dan sebarkan Content blog ini dengan syarat cantumkan sumber atau URL blog...thanx
Untuk masuk ke Blog, "KLIK" Salah Satu iklan di bawah ini 1X, lalu klik close 2X
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 April 2012

Penggunaan Komputer dalam Dunia Pendidikan dan Dampaknya Terhadap Peserta Didik


Iseng2 bongkar dokumen pas jaman ane awal2 kuliah, ane nemuin artikel ane pas jaman dulu kala. Ini Artikel ane tulis di tahun 2009, Udah lama sangatlah. Waktu itu ane lagi ikut lomba karya tulis ilmiah gitu di kampus, dan artikel ini lah yang ane ikutin buat lomba. Walaupun kaga menang, tapi kata panitia lomba, artikel ini masuk 10 besar lo... (klo ga salah, panitia lombanya bilang artikel ane ada di urutan 8, cuman ane ngerasa bwt ngehibur aja kali ye, tetap aja ane ga dapet hadiah..he..he). Nah...Sekedar share aja, berikut artikel nya...Cekibrot...

Pada era teknologi modern seperti sekarang ini, hampir semua kegiatan manusia menggunakan bantuan komputer. Ditemukannya formulasi-formulasi baru yang mampu meningkatkan kapasitas komputer, seolah-olah menggeser posisi kemampuan otak dalam berbagai bidang ilmu dan aktivitas manusia. Ringkas kata, kemajuan manusia dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang paling mutakhir, yaitu komputer, benar-benar telah diakui dan dirasakan memberikan banyak kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat manusia. Dalam bidang pendidikan, komputer dengan kemampuan mutakhirnya juga tidak luput dimanfaatkan oleh berbagai komponen pendidikan, mulai dari peserta didik, pendidik, pengelola pendidikan, pemerhati pendidikan, dan berbagai pihak yang merasa dirinya memiliki keterkaitan dengan pendidikan. Tulisan ini tidak akan membahas tentang pengelola pendidikan, pemerhati pendidikan dan pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan pendidikan tapi lebih dikerucutkan lagi pada penggunaan komputer dalam aktivitas pembelajaran di dalam atau di luar kelas dengan aspek utamanya pendidik dan peserta didik.

Sebagian dari kita, tentunya sering menggunakan komputer baik sebagai pendidik maupun sebagai peserta didik, tapi pernahkah terbesit dalam pemikiran kita komputer tersebut benar-benar layak digunakan untuk dunia pendidikan? Apakah penggunaan komputer sesuai atau compatible dengan teori-teori dan konsep belajar yang ada? Apa saja implikasi atau dampak pembelajaran dengan menggunakan komputer terhadap peserta didik? Pertanyaan-pertanyaan yang sangat menarik sekali untuk dijawab karena banyak dari kita yang merasa “bangga, modern dan puas” hanya karena telah memanfaatkan komputer dalam aktivitas pembelajaran namun tidak paham apakah komputer itu sendiri layak digunakan atau tidak serta apa makna dan implikasi penggunaan alat canggih tersebut bagi pendidikan.

Dalam pendidikan, dikenal istilah pembelajaran. Pembelajaran adalah membelajarkan peserta didik dengan menggunakan asas pendidikan dan teori belajar tertentu. Jadi, antara pendidikan, pembelajaran, dan belajar tidak dapat dipisahkan karena telah memiliki suatu kesatuan yang kuat. Dalam belajar, dikenal istilah teori-teori belajar, seperti: teori disiplin mental, teori behaviorisme, teori kognitivisme, teori konstruktivisme, dan lain sebagainya. Teori-teori tersebut memiliki konsep dan pola pikir dari berbagai ahli yang berbeda-beda. Di sini kita akan mencoba melihat dari sudut pandang dua teori, yaitu behaviorisme dan konstruktivisme.
Dalam behaviorisme, dijelaskan bahwa kehidupan individu atau siswa yang belajar dipandang sebagai molekul-molekul atau unsur-unsur yang terpisah dan tidak saling berhubungan. Salah satu ciri dari teori ini yaitu: bersifat mengutamakan unsur-unsur atau bagian-bagian kecil dan menekankan pada peranan lingkungan. Agar ciri mengutamakan unsur-unsur atau bagian-bagian kecil ini dapat terwujud, maka materi ajar yang akan disampaikan kepada peserta didik hendaknya diprogram secara ketat oleh pendidik, agar tersusun secara sistematis atau berurutan dari hal yang kecil atau unsur-unsur kepada hal besar secara komprehensif, untuk pencapaian tujuan pembelajaran. Sebagaimana kita ketahui, komputer memiliki sifat dan kegunaan yang mudah untuk diprogram, maka ciri yang bersifat unsur-unsur atau bagian-bagian kecil ini dapat diaplikasikan oleh pendidik dalam pembelajaran menggunakan media komputer. Pendidik dapat mempresentasikan bahan ajar slide per slide kepada peserta didik dengan bantuan fasilitas power point, atau pun bantuan software pihak ketiga seperti adobe flash dan lain sebagainya. Pada akhirnya, siswa memahami materi pelajaran satu demi satu dan materi yang disampaikan terkesan terpisah-pisah antara materi atau sub materi-sub materi yang satu dengan yang lainnya. Ciri selanjutnya dari teori belajar behaviorisme adalah menenekankan pada peranan lingkungan. Lingkungan, dalam artian pembelajaran di dalam kelas, dapat dimodifikasi dan dikondisikan dengan menggunakan teknologi dari komputer. Komputer mempunyai kemampuan mengombinasikan teks, suara, warna, gambar, gerak, dan video, serta memuat suatu kepintaran yang sanggup menyajikan proses interaktif dan mendukung penggunaan multimedia. Pada umumnya dalam bidang pendidikan, penggunaan teknologi berbasis komputer merupakan cara untuk menghasilkan atau menyampaikan materi dengan menggunakan sumber-sumber yang berbasis mikro prosesor, di mana informasi atau materi yang disampaikan disimpan dalam bentuk digital, bukan dalam bentuk cetakan. Jika seorang pendidik dapat membalut materi yang disampaikannya dengan efek teks, suara, warna, gambar, gerak, dan video yang telah disediakan oleh komputer, maka pengalaman belajar yang didapat peserta didik dari lingkungan belajarnya akan makin bermakna. Satu hal lagi, peserta didik lebih menyukai gambar yang bewarna, bergerak dan diiringi dengan sound atau suara yang mengakibatkan pengalaman belajar yang mereka dapatkan semakin konkret, menyenangkan, dan tidak membosankan. Menurut kerucut pengalaman Edgar Dale, sesuai dengan perkembangan peserta didik sebagai anak, pengajaran hendaknya lebih mengutamakan sifat konkret, sehingga alat bantu mengajar pun hendaklah dirancang sekonkret mungkin (mendekati kenyataan atau kehidupan sehari-hari) yang pada akhirnya memudahkan peserta didik mengalami, memahami, mengerti, melakukan, dan menimbulkan motivasi yang kuat untuk belajar di dalam dirinya.


Kerucut Pengalaman Edgar Dale


Teori yang kedua adalah konstruktivisme. Konstruktivisme mengharapkan siswa aktif mengkonstruksi atau membangun pengetahuannya sendiri. Esensi dari teori konstruktivisme adalah ide bahwa peserta didik harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks atau rumit ke situasi lain, dan apabila dikehendaki informasi yang dalam hal ini adalah bahan ajar, dapat menjadi milik mereka sendiri. Pendidik hanya berfungsi sebagai fasilitator sumber belajar tanpa melakukan intervensi telalu jauh terhadap aktivitas belajar siswa. Penerapan teori konstruktivisme dalam pembelajaran dapat berupa pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan komputer, E-Learning, buku elektronik, penugasan mencari materi pelajaran yang telah ditentukan dengan menggunakan fasilitas internet dan lain sebagainya. Pada waktu tertentu, peserta didik dikumpulkan dan diadakan peninjauan secara komprehensif mengenai bahan ajar yang mereka cari, dapatkan dan pahami. Setelah itu, diadakanlah klarifikasi pendidik kepada peserta didik terhadap materi mana yang kurang dipahami oleh peserta didik. Di sini, seperti yang telah disinggung sebelumnya, pendidik hanya berfungsi sebagai fasilitator pada saat proses dan pengoreksi pada saat akhir pembelajaran dengan memanfaatkan komputer sebagai sumber bahan ajar dan aktivitas belajar bagi peserta didik.

Setelah membaca penjabaran di atas, maka kita dapat melihat bahwa komputer memang layak dan cocok digunakan dalam dunia pendidikan. Di samping teori-teori belajar dalam pembelajaran yang tidak hanya satu teori yang mendukung penggunaan komputer dalam pembelajaran, kita juga dapat mengambil hal-hal positif dari penggunaan komputer. Ada pun hal-hal positif tersebut yaitu: (1) pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan akan lebih terarah, karena bahan ajar dapat diprogram secara sistematis melalui media komputer; (2) pesereta didik dapat belajar secara step by step karena bahan ajar dapat dipresentasikan satu-satu dan terpisah-pisah, mulai dari yang kompleks menuju sederhana atau sebaliknya, melalui media pengajaran komputer; (3) penggunaan komputer, dengan teknologi mutakhirnya, dapat menjadikan pengalaman belajar peserta didik makin bermakna dan lebih konkret yang berujung pada tumbuhnya motivasi belajar pada diri peserta didik; (4) pendidik dapat mengoptimalkan tenaga dan waktunya karena tugas untuk menyampaikan materi telah diambil alih komputer sebagai alat bantu media pengajaran; (5) dengan fasilitas komputer yang dilengkapi kecanggihan internet, peserta didik dapat mengkonstruksi pengetahuannya tahap demi tahap, di mana pun dan kapan pun.
Kita boleh bergembira, berpikir bahwa apapun dapat terwujud dengan mudah, tanpa mengeluarkan banyak waktu dan tenaga dengan memanfaatkan komputer sebagai media pembelajaran, tapi adakah terlintas di benak kita implikasi negatif dari penggunaan komputer terhadap peserta didik? Kita harus sadar bahwa setiap tindakan pasti mendatangkan risiko. Benih yang kita tanam akan tumbuh menjadi tanaman yang menghasilkan buah, baik buah yang busuk atau pun yang bagus, begitu juga dengan pemanfaatan komputer dalam dunia pendidikan, ada sisi positif dan negatifnya. Dari segi interaksi antar manusia, jelas bahwa komputer telah meniadakan peran fungsi manusia sebagai pendidik dan menggantikannya dengan peran mesin pengajar. Kita harus ingat bahwa peserta didik adalah manusia yang membutuhkan kasih sayang, perhatian, dan figur teladan bagi kehidupannya. Efek negatif lain dari penggunaan komputer adalah terjadinya individualisasi pada diri peserta didik. Pembelajaran menggunakan alat bantu komputer akan mengakibatkan peserta didik memiliki interaksi yang tinggi dengan mesin sehingga, tidak tertutup kemungkinan, peserta didik lupa akan kewajibannya sebagai seorang anak, sebagai seorang siswa, dan sebagai anggota masyarakat yang perlu bergaul dan berinteraksi dengan orang lain. Dampak negatif berikutnya yaitu peserta didik akan mendapatkan informasi tanpa batas bagi pengalaman belajarnya, apalagi dengan memanfaatkan fasilitas internet, dimana pengaruh globalisasi sangat kental dan deras menerpa siapa saja yang memanfaatkannya.

Berdasarkan uraian yang telah kita baca dalam tulisan ini, pemanfaatan komputer sebagai alat bantu media pembelajaran dapat dianalogikan seperti dua sisi mata uang. Salah satu sisinya menggambarkan keuntungan dan kemudahan apabila kita menggunakannya dengan sebaik mungkin dan satu sisinya lagi menggambarkan kehancuran dan kebobrokan apabila digunakan secara terus menerus dan tanpa batas. Sekarang tergantung kita yang menggunakan mesin serba bisa tersebut dalam pendidikan. Pastinya sebagai manusia kita memiliki kebijakan dan pilihan masing-masing, baik sebagai pendidik maupun sebagai peserta didik, karena sesuai pepatah lama yang mengatakan ”hidup itu penuh dengan pilihan”.

Baca selengkapnya......

Kamis, 29 Maret 2012

Keterkaitan Hasil Belajar dengan Model Quantum Learning


Jaman dulu kala, ane pernah memosting tentang Quantum Learning dan hasil belajar. Setelah ane pikir-pikir lagi, antara hasil belajar yang notabenenya sebagai sesuatu yang ingin dicapai dengan quantum learning sebagai model pembelajaran, pasti dan harus punya keterkaitan. Tapi….Keterkaitannya apa ya??? Nah….beranjak dari pemikiran ini, ane mencoba untuk bikin tulisan tentang hubungan antara Quantum learning dengan hasil belajar. Berikut ulasannya :)

Seseorang atau suatu organisme yang melakukan sesuatu, sedikit banyaknya ada kebutuhan di dalam dirinya yang ingin dipenuhi atau ada sesuatu yang ingin dicapainya, makanya ia termotivasi melakukan sesuatu tersebut. Idealnya siswa yang belajar juga harus mengetahui kebutuhan apa yang ingin dipenuhinya atau apa yang harusnya dicapai pada saat belajar karena belajar merupakan aktivitas dasar bagi seorang siswa. Dengan mengetahui kebutuhan apa yang ingin dipenuhi atau apa yang ingin dicapai dari aktivitas belajar, maka nantinya dari sanalah motivasi belajar akan muncul. Akan tetapi, setelah siswa mengetahui kebutuhan apa yang akan terpenuhi setelah melakukan aktivitas belajar yang dibarengi munculnya motivasi untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka motivasi yang ada belum tentu akan bertahan lama dalam diri siswa. Bisa jadi motivasi tersebut hanya bertahan beberapa saat. Oleh karena itu, siswa yang belajar harus terus diberikan motivasi untuk belajar dengan harapan bahwa belajar tersebut akan membuahkan hasil.

Dalam konsep pembelajaran, motivasi berarti seni mendorong peserta didik untuk terdorong melakukan kegiatan belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai. Motivasi merupakan faktor yang sangat besar pengaruhnya pada proses belajar siswa, tanpa adanya motivasi, maka proses belajar siswa akan sukar berjalan secara lancar. Oleh karena itu, motivasi adalah syarat mutlak dalam belajar. Upaya menggerakkan, mengarahkan dan mendorong kegiatan murid untuk belajar dengan penuh semangat dan vitalitas yang tinggi dinamakan dengan memberi motivasi. Banyak bakat anak tidak berkembang, hal ini dikarenakan tidak diperolehnya motivasi yang tepat. Jika seseorang mendapat motivasi yang tepat, maka lepaslah tenaga yang luar biasa, sehingga tercapai hasil-hasil yang semula tidak terduga (Sagala, 2008:104-105)
Selain adanya motivasi, kegiatan belajar siswa dapat terjadi bila siswa ada perhatian terhadap stimulus belajar. Perhatian siswa terhadap stimulasi belajar dapat diwujudkan melalui upaya seperti penggunaan media pengajaran atau alat-alat peraga, memberikan pertanyaan kepada siswa, membuat variasi belajar pada siswa, melakukan pengulangan informasi yang berbeda sifatnya dengan cara sebelumnya, memberikan stimulus belajar dalam bentuk lain sehingga tidak bosan (Sagala, 2008:102).

Dalam proses pembelajaran, perlu adanya model pembelajaran yang dapat memunculkan motivasi yang tepat dan perhatian yang optimal dari anak didik pada saat pembelajaran berlangsung. Dengan adanya motivasi yang tepat dan perhatian yang optimal, maka harapannya siswa dapat mengeluarkan potensi belajarnya dengan baik dan diperoleh hasil belajar yang maksimal.

Dari sejumlah model pembelajaran yang ada, salah satunya terdapat model pembelajaran quantum learning yang dikemukakan oleh Bobbi DePorter dan berakar dari upaya Dr. Georgi Lazanov, seorang pendidik berkebangsaan Bulgaria. Quantum learning mencakup aspek-aspek penting dalam program neurolinguistik yaitu bagaimana otak mengatur informasi yang diperoleh dalam belajar, Artinya dalam belajar, siswa dan guru dapat meningkatkan motivasi, meningkatkan nilai belajar, memperbesar keyakinan diri, mempertahankan sikap positif, dan melanjutkan keberhasilan dengan memanfaatkan keterampilan yang diperoleh. Lingkungan dan sumber belajar model quantum learning pun mempertimbangkan dengan cermat lingkungan yang positif, aman, mendukung, santai, penjelajahan, dan menggembirakan, sedangkan gerakan fisik dalam belajar yaitu gerakan, terobosan, perubahan, keadaan, permainan-permainan, fisiologi, estafet, dan partisipasi (Deporter dan Hernacki, 2009:15).

Motivasi yang lahir dari adanya interaksi antara guru dan siswa dalam kerangka implementasi model pembelajaran quantum learning, harusnya dapat memberi semangat yang kuat bagi guru untuk melaksanakan tugas profesionalnya, dan juga memberi semangat kepada siswa untuk memperoleh hasil belajar yang bermutu.

Bagan Keterkaitan Hasil Belajar Dengan Quantum Learning

Sumber Bacaan:
Mike, Hernacki dan Bobbi DePorter. (2009). Quantum Learning. Alih bahasa oleh Alwiyah Abdurrahman. Bandung: Kaifa.

Sagala, Syaiful. (2008). Konsep dan Makna Pembelajaran: Untuk Membantu Memecahkan ProblematikaBelajar dan Mengajar. Bandung: Alfabeta.


Baca selengkapnya......

Kamis, 08 Desember 2011

Prinsip-prinsip Pembelajaran


Prinsip-prinsip pembelajaran sangat penting untuk diperhatikan oleh seorang guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Pembelajaran yang didasarkan pada prinsip-prinsip belajar yang benar, maka nantinya akan diperoleh hasil belajar yang optimal. Rusyan (1993:20) dalam Sagala (2008:55-57) mengemukakan bahwa terdapat prinsip-prinsip dalam proses pembelajaran, yaitu:
a. Motivasi, kematangan dan kesiapan diperlukan dalam proses belajar mengajar, tanpa motivasi dalam proses belajar mengajar, terutama motivasi intrinsik, proses belajar mengajar tidak akan efektif dan tanpa kematangan organ-organ biologis dan fisiologis, upaya belajar sukar berlangsung.


b. Pembentukan persepsi yang tepat terhadap rangsangan sensoris merupakan dasar dari proses belajar mengajar yang tepat.

c. Kemajuan dan keberhasilan proses belajar mengajar ditentukan oleh bakat khusus, taraf kecerdasan, minat serta tingkat kematangan dan jenis, sifat dan intensitas dari bahan yang dipelajari.

d. Proses belajar mengajar dapat dangkal, luas dan mendalam, tergantung pada materi yang menjadi pembahasan dalam pembelajaran tersebut.

e. Feedback atau pengetahuan akan hasil-hasil proses belajar mengajar yang lampau dapat merangsang atau sebaliknya menghambat kemajuan proses belajar mengajar berikutnya.

f. Proses belajar mengajar dalam suatu situasi dapat ditransfer untuk kegiatan belajar situasi atau bidang lainnya, dikenal dengan transfer of learning dan transfer of training dalam pembelajaran

g. Respon yang kacau, kaku dan acak-acakan serta proses belajar mengajar secara trial dan error tidak terencana menandai proses belajar mengajar yang amburadul dan pembelajaran itu cenderung gagal.

h. Untuk mengukur kemajuan belajar, maka ulangan, latihan, akan memperkuat hasil belajar, sebaliknya tanpa latihan, ulangan dan penggunaan maka hasil belajar akan hilang atau melemah.

i. Trial and error, respon tak beraturan dan jamak, umumnya menandai tahap-tahap awal beberapa mata pelajaran untuk mencari bentuk pembelajaran yang cocok.

j. Proses belajar mengajar dapat bersifat internasional artinya pembelajaran tersebut direncanakan, terorganisir, bahan pelajaran tersusun secara sistematis dan dibimbing guru atau petugas yang terlatih untuk itu.

k. Transfer dalam belajar dapat positif atau negatif dan transfer positif terjadi bila belajar kemudian dipermudah atau dibantu oleh belajar yang mendahului, sedangkan transfer negatif terjadi apabila yang telah dipelajari sebelumnya menghambat belajar yang kemudian.

l. Proses belajar mengajar berlangsung dari yang sederhana meningkat kepada yang kompleks, dari yang konkret kepada yang abstrak, dari yang khusus ke umum, dari yang mudah ke yang sulit, dari induksi ke deduksi.

m. Proses belajar mengajar dapat berlangsung dengan kurang disadari secara insidentil.

n. Proses belajar mengajar yang disertai oleh pemahaman yang jelas tentang tujuan yang mudah dicapai akan menjadi lebih efektif dari pada belajar tanpa tujuan-tujuan dari arah yang jelas.

o. Dalam proses belajar mengajar dapat meliputi belajar informasi (pengetahuan), belajar konsep, belajar prinsip, belajar sikap dan belajar keterampilan.

p. Insight timbul jika individu berhasil menemukan hubungan antara bagian-bagian atau unsur-unsur dari suatu keseluruhan konfigurasi, insight dapat timbul secara tiba-tiba ataupun secara berangsur-angsur.

q. Proses belajar mengajar bersifat individual, artinya tiap individu memperlihatkan perbedaan dalam kecepatan belajar, tingkat dan batas-batas dalam berbagai bidang.

Sumber:
Sagala, Syaiful. (2008). Konsep dan Makna Pembelajaran: Untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar. Bandung: Alfabeta.

Baca selengkapnya......

Konsep Pembelajaran

Pembelajaran mengandung arti setiap kegiatan yang dirancang untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan atau nilai yang baru. Proses pembelajaran sendiri merupakan proses yang mendasar dalam aktivitas pendidikan di sekolah. Dari proses pembelajaran tersebutlah siswa memperoleh hasil belajar yang merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar yaitu mengalami proses untuk meningkatkan kemampuan mentalnya dan tindak mengajar yaitu membelajarkan siswa.

Menurut Hamalik (1999:57) pembelajaran adalah:
Suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Manusia terlibat dalam sistem pengajaran terdiri dari siswa, guru, dan tenaga lainnya, misalnya tenaga laboratorium. Material meliputi buku-buku, papan tulis, dan kapur, fotografi, slide dan film, audio dan video tape. Fasilitas dan perlengkapan terdiri dari ruangan kelas, perlengkapan audio visual, juga komputer. Prosedur meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi, praktik, belajar, ujian dan sebagainya.

Sedangkan menurut Dimyati dan Mujiono (1999:297) dalam Sagala (2008:62) pembelajaran merupakan “kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif”.
Berdasarkan pada penjelasan di atas maka dapat dikatakan bahwa pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam rangka membantu siswa untuk belajar dimana kegiatan guru tersebut harus memperhatikan unsur-unsur seperti manusia, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Kegiatan pembelajaran yang diprogram guru merupakan kegiatan integralistik antara pendidik dengan peserta didik. Pembelajaran juga tidak terjadi dengan seketika dimana menurut Knirk dan Gustafon (1986) dalam Sagala (2008:64) bahwa pembelajaran tersebut merupakan proses yang sistematis yang melalui tahap rancangan, pelaksanaan dan evaluasi.”

Sumber:
Hamalik, Oemar. (1999). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Sagala, Syaiful. (2008). Konsep dan Makna Pembelajaran: Untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar. Bandung: Alfabeta.

Baca selengkapnya......

Prinsip-prinsip Belajar


Berbagai eksperimen telah dilakukan oleh para ahli Psikologi tentang proses belajar mengajar dan berhasil mengungkap serta menemukan sejumlah prinsip belajar. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Sagala (2008:54-55), bahwa belajar tersebut terdiri atas beberapa prinsip, diantaranya:

a. Law of Effect yaitu bila hubungan antara stimulus dengan respon terjadi dan diikuti dengan keadaan memuaskan, maka hubungan itu diperkuat. Sebaliknya jika hubungan itu diikuti dengan perasaan tidak menyenangkan, maka hubungan itu akan melemah. Jadi hasil belajar akan diperkuat apabila menumbuhkan rasa senang dan puas.

b. Spread of effect yaitu reaksi emosional yang mengiringi kepuasan itu tidak terbatas kepada sumber utama pemberi kepuasan, tetapi kepuasan mendapat pengetahuan baru.

c. Law of Exercise yaitu hubungan antara perangsang dan reaksi diperkuat dengan latihan dan penguasaan, sebaliknya hubungan itu melemahkan jika dipergunakan. Jadi, hasil belajar dapat lebih sempurna apabila sering diulang dan sering dilatih.

d. Law of readiness yaitu bila satuan-satuan dalam sistem syaraf telah siap berkonduksi, dan hubungan itu berlangsung, maka terjadinya hubungan itu akan memuaskan. Dalam hubungan ini tingkah laku baru akan terjadi apabila yang belajar telah siap belajar.

e. Law of Primacy yaitu hasil belajar yang diperoleh melalui kesan pertama , akan sulit digoyahkan.

f. Law of intensity yaitu belajar memberi makna yang dalam apabila diupayakan melalui kegiatan yang dinamis.

g. Law of recency yaitu bahan yang baru dipelajari, akan lebih mudah diingat.

h. Fenomena kejenuhan adalah suatu penyebab yang menjadi perhatian signifikan dalam pembelajaran. Kejenuhan adalah suatu sumber frustasi fundamental bagi peserta didik dan juga pendidik. Di lain pihak, intervensi pemerintah sebagai penanggung jawab pendidikan selalu tidak memecahkan masalah yang esensial. Kejenuhan belajar (plateauing) adalah rentang waktu tertentu yang dipakai untuk belajar, tetapi tidak mendatangkan hasil, karena antara lain keletihan mental dan indera-indera. Plateau belajar yaitu periode kegiatan yang tidak menyebabkan perubahan pada individu karena berbagai faktor:
1) Kesulitan bahan yang dipelajari meningkat, sehingga yang belajar tidak mampu menyelesaikan, sekalipun yang belajar terus berusaha.
2) Metode belajar yang dipergunakan individu tidak memadai, sehingga upaya yang dilakukannya akan sia-sia belaka.
3) Kejenuhan belajar yang disebabkan oleh keletihan atau kelelahan badan

i. Belonginess yaitu keterikatan bahan yang dipelajari pada situasi belajar, akan mempermudah berubahnya tingkah laku. Hasil belajar yang memberikan kepuasan dalam proses belajar dan latihan yang diterima erat kaitannya dengan kehidupan belajar. Proses belajar yang demikian ini akan meningkatkan prestasi hasil belajar peserta didik.

Sumber:
Sagala, Syaiful. (2008). Konsep dan Makna Pembelajaran-Untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar. Bandung: Alfabeta.

Baca selengkapnya......

Faktor yang Mempengaruhi Belajar

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak sekali jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar individu.

Menurut Slameto dalam Prasetio (2011), belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor intern dan ekstern. Adapun penjelasannya sebagai berikut:
a. Faktor Intern
Faktor intern adalah faktor yang ada dari dalam diri individu yang sedang belajar. Di bagi menjadi tiga faktor, yaitu:
1) Faktor Jasmaniah
Berupa kesehatan, cacat tubuh dan kematangan jasmaniah yang dimiliki seorang individu yang cukup berpengaruh pada proses belajar. Seseorang yang memiliki kekurangan jasmaniah akan terganggu pada proses belajarnya sehingga tujuan yang ingin dicapai tidak akan optimal.

2) Faktor Psikologi
Beberapa faktor psikologis yang mempengaruhi belajar, antara lain: intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kesiapan.

3) Faktor kelelahan
Kelelahan juga cukup berpengaruh terhadap belajar. Seorang yang kelelahan akan sulit berkonsentrasi, sehingga akan kesulitan dalam menerima informasi yang disampaikan dalam proses belajar. Agar informasi yang disampaikan dapat diterima dengan baik maka sebaiknya seseorang jangan sampai mengalami kelelahan.

b. Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor yang mempengaruhi dari luar diri individu. Faktor ekstern terdiri dari:
1) Faktor keluarga
Meliputi hubungan antar anggota keluarga, kondisi dan suasana keluarga, keadaan ekonomi keluarga, dan sistem pendidikan yang diterapkan di dalam keluarga.

2) Faktor sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, tata tertib sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung dan fasilitas sekolah.

3) Faktor masyarakat
Masyarakat juga berpengaruh pada belajar siswa. Kondisi masyarakat, dalam hal ini adalah adat istiadat atau kebiasaan yang ada dalam suatu masyarakat, akan mempengaruhi individu yang ada di dalam masyarakat tersebut sehingga juga akan berpengaruh terhadap belajar.

Sumber:
Prasetio, Galuh. (2011). Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar. [Online] Tersedia: http://galuhprasetio.com/ilmu-pengetahuan/faktor-yang-mempengaruhi-belajar

Baca selengkapnya......

Minggu, 04 Desember 2011

Strategi Pembelajaran


a. Pengertian Strategi Pembelajaran
Dalam pembelajaran terdapat strategi, dimana strategi ini digunakan untuk memperoleh kesuksesan atau keberhasilan dalam mencapai tujuan. Dalam dunia pendidikan, strategi diartikan sebagai “perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (Sanjaya, 2007:126).”
Sejalan dengan itu, Kemp (1995) dalam Sanjaya (2007:126) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah “ suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.” Sagala (2008:222) menambahkan bahwa “strategi dapat diartikan sebagai suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam rangka mencapai sasaran yang telah ditentukan.”
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa strategi pembelajaran merupakan perencanaan yang berisi rangkaian-rangkaian kegiatan yang didesain oleh guru sebagai haluan untuk bertindak dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

b. Jenis-jenis Strategi Pembelajaran
Ada beberapa strategi pembelajaran yang dapat digunakan. Rowntree (1974) dalam Sanjaya (2007:128-129) mengelompokkan ke dalam strategi exposition-discovery learning dan strategi pembelajaran kelompok-individual atau group-individual learning.
Dalam strategi exposition, bahan pelajaran disajikan kepada siswa dalam bentuk jadi dan siswa dituntut untuk menguasai bahan tersebut. Berbeda dengan strategi exposition strategi discovery bahan pelajaran dicari dan diyemukan sendiri oleh siswa melalui berbagai aktivitas, sehinnga tugas guru lebih banyak sebagai fasilitator dan pembimbing bagi siswanya.
Strategi individual dilakukan oleh siswa secara mandiri. Kecepatan, kelambatan, dan keberhasilan pembelajaran siswa sangat ditentukan oleh kemampuan individu siswa yang bersangkutan. Bahan pelajaran serta bagaimana mempelajarinya didesain untuk belajar sendiri. Berbeda dengan strategi pembelajaran individual, belajar kelompok dilakukan secara beregu. Sekelompok siswa diajar oleh seorang atau beberapa orang guru. Bentuk belajar kelompok bisa dalam kelompok besar atau pembelajaran klasikal atau bisa juga belajar dalam kelompok-kelompok kecil semacam buzz group. Strategi kelompok ini tidak memerhatikan kecepatan belajar individual. Setiap individu dianggap sama.
Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran juga dapat dibedakan antara strategi pembelajaran deduktif dan strategi pembelajaran induktif.
Strategi pembelajaran deduktif (umum ke khusus), dimana pembelajaran dilakukan dengan mempelajari konsep-konsep terlebih dahulu untuk kemudian dicari kesimpulan dan ilustrasi-ilustrasi, dan strategi pembelajaran induktif (khusus ke umum), dimana pembelajaran dimulai dari hal-hal yang konkret atau contoh-contoh yang kemudian secara perlahan siswa dihadapkan pada materi yang kompleks dan sukar (Sanjaya, 2007:129).

c. Pertimbangan dalam Memilih Strategi Pembelajaran
Sebelum menentukan strategi pembelajaran yang dapat digunakan, ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan. Ada pun pertimbangan-pertimbangan tersebut menurut Sanjaya (2007:130) yaitu:
1) Pertimbangan yang berhubungan dengan tujuan yang ingin dicapai, seperti:
a) Apakah tujuan pembelajaran yang ingin dicapai berkenaan dengan aspek kognitif, afektif atau psikomotor?
b) Bagaimana kompleksitas tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, apakah tingkat tinggi atau rendah?
c) Apakah untuk mencapai tujuan itu memerlukan keterampilan akademis?

2) Pertimbangan yang berhubungan dengan bahan atau materi pembelajaran, seperti:
a) Apakah materi pelajaran itu berupa fakta, konsep, hukum, atau teori tertentu?
b) Apakah untuk mempelajari materi pembelajaran itu memerlukan prasyarat tertentu atau tidak?
c) Apakah tersedia buku-buku sumber untuk mempelajari materi itu?

3) Pertimbangan dari sudut siswa, seperti:
a) Apakah strategi pembelajaran sesuai dengan tingkat kematangan siswa?
b) Apakah strategi pembelajaran itu sesuai dengan minat, bakat, dan kondisi siswa?
c) Apakah strategi pembelajaran itu sesuai dengan gaya belajar siswa?

4) Pertimbangan-pertimbangan lainnya, seperti:
a) Apakah untuk mencapai tujuan hanya cukup dengan satu strategi saja?
b) Apakah strategi yang ditetapkan dianggap satu-satunya strategi yang dapat digunakan?
c) Apakah strategi itu memiliki nilai efektivitas dan efisiensi?

Pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan bahan pertimbangan dalam menetapkan strategi yang ingin diterapkan. Dengan adanya berbagai bahan yang dapat dipertimbangkan, maka akan terlihat nantinya strategi mana saja yang cocok untuk diterapkan.

sumber:
Sagala, Syaiful. (2008). Konsep dan Makna Pembelajaran: Untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar. Bandung: Alfabeta.

Sanjaya, Wina (2007). Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Baca selengkapnya......

Hasil Belajar



1. Pengetian Hasil Belajar

Hasil Belajar adalah segala perilaku siswa baik berupa pengetahuan, sikap, nilai, dan keterampilan berkat latihan dan pengalaman. Hasil belajar merupakan tolak ukur keberhasilan siswa di dalam memahami materi yang telah disampaikan oleh guru ketika kegiatan belajar-mengajar berlangsung.
Seseorang diakatakan telah belajar apabila ia telah memperoleh hasil belajar yang telah dicapai yakni perubahan tingkah laku. Hasil belajar tersebut akan terlihat setelah diberikan perlakuan pada proses belajar yang dianggap sebagai proses pemberian pengalaman belajar. Sejalan dengan hal ini, Arifin (2009:26) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan:
gambaran tentang apa yang harus digali, dipahami, dan dikerjakan peserta didik. Hasil belajar ini merefleksikan keluasan, kedalaman, kerumitan, dan harus digambarkan secara jelas serta dapat diukur dengan teknik-teknik penilaian tertentu.

Bersadarkan pada penjelasan di atas maka dapa disimpulka bahwa hasil belajar adalah segala perubahan tingkah laku, baik berupa pengetahuan, sikap, nilai, dan keterampilan, setelah diberikan perlakuan pada proses belajar serta hasil belajar tersebut harus digambarkan secara jelas dan dapat diukur.

2. Hasil Belajar Ranah Kognitif
Perumusan aspek-aspek kemampuan yang menggambarkan output peserta didik yang dihasilkan dari proses pembelajaran dapat digolongkan kedalam tiga klasifikasi berdasarkan taksonomi Bloom. Bloom menamakan cara mengklasifikasi ini dengan “The taxonomy of education objectives”. Menurut Bloom (1956) dalam Arifin (2009:21) hasil belajar terbagi atas tiga kelompok, yaitu ”kognitif, afektif dan psikomotor.” Ranah kognitif berkaitan dengan tujuan-tujuan pembelajaran yang berkaitan dengan kemampuan berfikir, mengetahui dan memecahkan masalah. Ranah afektif berkaitan dengan tujuan-tujuan yang berhubungan dengan perasaan, emosi, nilai, dan sikap yang menunjukkan penerimaan atau penolakan terhadap sesuatu. Ranah psikomotor berkaitan dengan keterampilan motorik, manipulasi bahan atau objek.
Adapun pembagian tingkat kemampuan atau tipe hasil belajar dalam ranah kognitif, menurut Bloom dalam Ngalim Purwanto (2006:43-48), yaitu:
a. Pengetahuan/Knowledge
Pengetahuan merupakan tingkat kemampuan yang hanya meminta peserta didik untuk mengenal atau mengetahui adanya konsep, fakta dan istilah-istilah tanpa harus mengerti, menilai,dan menggunakannya. Dalam hal ini peserta didik biasanya hanya dituntut untuk menyebutkan kembali (recal) atau menghafal saja. Kata kerja opearsional yang dapat digunakan yaitu: menyebutkan, menunjukkan, mengenal, mengingat kembali, mendefinisikan.

b. Pemahaman/komprehensi
Pemahaman merupakan tingkat kemampuan yang mengharapkan peserta didik mampu memahami arti atau konsep, situasi, serta fakta yang diketahuinya. Dalam hal ini, peserta didik tidak hanya hafal secara verbalitas, tetapi memahami konsep dari masalah atau fakta yang ditanyakan. Kata kerja opearasional yang biasa dipakai yaitu: membedakan, mengubah, mempersiapkan, menyajikan, mengatur, menginterpretasikan, menjelaskan, mendemostrasikan, memberi contoh, memperkirakan, menentukan, mengambil kesimpulan.

c. Aplikasi/penerapan
Dalam tingkat aplikasi, peserta didik dituntut kemampuannya untuk menerapkan atau menggunakan apa yang telah diketahuinya dalam suatu situasi yang baru baginya. Dengan kata lain, aplikasi adalah penggunaan abstraksi pada situasi kongkret atau situasi khusus. Kata kerja yang dapat dipakai yaitu: menggunakan, menerapkan, menggeneralisasikan, menghubungkan, memilih, mengembangkan, mengorganisasi, menyusun, mengklasifikasikan, mengubah struktur.

d. Analisis
Tingkat kemampuan analisis merupakan tingkat kemampuan peserta didik untuk menganalisis atau menguraikan suatu integritas atau suatu situasi tertentu ke dalam komponen-komponen atau unsur-unsur pembentuknya. Pada tingkat analisis, peserta didik diharapkan dapat memahami dan sekaligus dapat memilah-milahnya menjadi bagian-bagian. Hal ini dapat berupa kemampuan untuk memahami dan menguraikan bagaimana proses terjadinya sesuatu, cara bekerjanya sesuatu, atau mungkin juga sistematikanya. Kata kerja operasional yang biasa digunakan yaitu: membedakan, menemukan, mengklasifikasikan, mengategorikan, menganalisis, membandingkan, mengadakan pemisahan.

e. Sintesis
Tingkat kemampuan sintesis adalah penyatuan unsur-unsur atau bagian-bagian ke dalam suatu bentuk yang menyeluruh. Dengan kemampuan sintesis, peserta didik dituntut untuk dapat menemukan hubungan kausal atau urutan tertentu, atau menemukan abstraksinya yang berupa integritas. Kata kerja opearsional yang digunaka yaitu: menghubungkan, menghasilkan, mengkhususkan, mengembangkan, menggabungkan, mengorganisasi, menyintesis, mengklasifikasikan, menyimpulkan.

f. Evaluasi
Dengan kemampuan evaluasi, peserta didik diminta untuk membuat suatu penilaian tentang suatu pernyataan, konsep, situasi, dan sebagainya berdasarkan kriteria tertentu. Kegiatan penilaian dapat dilihat dari segi tujuannya, gagasannya, cara kerjanya, cara pemecahannya, metodenya, materinya dan lain sebagainya. Kata kerja operasional yang digunakan yaitu: menafsirkan, menilai, menentukan, mempertimbangkan, membandingkan, melakukan, memutuskan, mengargumentasikan, menaksir.


3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran. Proses penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajar melalui kegiatan belajar. Selanjutnya dari informasi tersebut guru dapat menusun dan membina kegiatan-kegiatan siswa lebih lanjut, baik untuk keseluruhan kelas maupun individu.
Munadi (2008:21) dalam Yani (2010:59-60) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar sebagai berikut:
a. Faktor internal
1) Faktor Fisiologis
Secara umum kondisi fisiologis, seperti kondisi kesehatan yang prima, tidak dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan cacat jasmani, dan sebagainya. Hal-hal tersebut dapat mempengaruhi siswa dalam menerima materi pelajaran.

2) Faktor Psikologis
Setiap manusia dalam hal ini peserta didik pada dasarnya memiliki kondisi psikologis yang berbeda-beda, tentunya hal ini turut mempengaruhi hasil belajar siswa. Beberapa faktor psikologis meliputi intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, motivasi, kognitif, dan daya nalar siswa.
b. Faktor Eksternal
1) Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan dapat mempengaruhi hasil belajar. Faktor lingkungan ini meliputi lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan alam misalnya suhu, kelembaban, dan lain-lain. Belajar pada tengah hari di dalam ruangan yang memiliki ventilasi udara yang kurang tentunya akan berbeda suasana belajarnya dengan yang belajar di pagi hari yang udaranya masih segar dan di ruang yang cukup mendukung untuk bernafas lega.

2) Faktor Instrumental
Faktor instrumental adalah faktor yang keberadaan dan penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan. Faktor-faktor ini diharapkan dapat berfungsi sebagai sarana untuk tercapainya tujuan-tujuan belajar yang telah direncanakan. Faktor-faktor instrumental ini dapat berupa kurikulum, sarana, dan guru.

sumber:
Arifin, Zaenal. (2009). Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Purwanto, M Ngalim. (2006). Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Yani, Rizqi Fitri. (2010). Pengaruh Penggunaan Multimedia Berbentuk Kartu Bergambar Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK) Di Sekolah Menengah Pertama. Skripsi UPI Bandung: Tidak Diterbitkan.

Baca selengkapnya......

Senin, 14 November 2011

Macam-Macam Bentuk Tes Hasil Belajar

Setelah pada kesempatan yang lalu kita membahas tentang Prinsip, Jenis Penilaian dan Prosedur Perencanaan Test, maka seperti yang saya janjikan, saya akan memosting tentang Macam-Macam Bentuk Tes Hasil Belajar. Bentuk-bentuk tes hasil belajar di sini hanya menjabarkan tes tertulis saja yang terbagi atas tes objektif dan tes essay. Ini karena di Indonesia, biasanya di sekolah sering yang dipergunakan adalah tes objektif dan test essay ini. Berikut penjelasannya:

a. Arti dan Macamnya
Tes hasil belajar atau achievement test adalah tes yang digunakan untuk menilai hasil-hasil pelajaran yang telah diberikan oleh guru pada murid-muridnya, atau oleh dosen kepada mahasiswa, dalam jangka waktu tertentu.
Dalam bukunya, Evaluation in modern education, Wrightstone menggolongkan macam-macam alat evaluasi itu menjadi sembilan kelompok, yaitu:
1. Short answer tests
2. Essay and oral examinations
3. Observation and anecdot records
4. Questionaires, invetories, and interviews
5. Checklists and rating scales
6. Personal reports and projective techniques
7. Sociometric methods
8. Case studies
9. Cumulative records

Untuk melaksanakan evaluasi hasil mengajar dan belajar, seorang guru dapat menggunakan dua mecam tes, yakni tes yang telah distandarkan (standardized test) dan tes buatan guru sendiri (teacher-made test).
Achievement test yang biasa dilakukan oleh guru dapat dibagi menjadi dua golongan, yakni tes lisan (oral tes) dan tes tertulis (writen tes). Tes tertulis dapat dibagi atas tes essay dan tes objektif atau disebut juga short-answer test.

b. Kebaikan dan Keburukannya
Kebaikan tes essay:
a. Bagi guru, menyusun tes tersebut sangat nudah dan tidak memerlukan waktu yang lama.
b. Si penjawab mempunyai kebebasan dalam menjawab dan mengeluarkan buah pikirannya.
c. Melatih mengeluarkan buah pikiran dalam bentuk kalimat atau bahasa yang teratur.
d. Lebih ekonomis.

Keburukan tes essay:
a. Kurang dapat mengukur pelajaran yang scope-nya luas.
b. Kemungkinan jawaban yang heterogen.
c. Dalam pemeriksaan tes ini, sering menimbulakn keobjektivan.

Kebaikan tes objektif:
a. Dapat mengukur bahan pelajaran yang scope-nya luas.
b. Bagi yang dites, menjawabnya dapat bebas dan terpimpin.
c. Dapat dinilai secara objektif.
d. Memaksa siswa untuk belajar baik-baik karena sukar untuk berbuat spekulasi.

Keburukan tes objektif:
a. Kurang memberikan kesempatan untuk menyatakan isi hati atau kecakapan.
b. Memungkinkan untuk berbuat coba-coba.
c. Menyusun tes ini tidak mudah.
d. Kurang ekonomis.

c. Syarat-Syarat Menyusun Tes Objektif
Ada pun syarat-syaratnya yaitu:
1. Harus didahului dengan penjelasan cara pengerjaan.
2. Penjelasan tersebut jangan terlalu panjang.
3. Hindarkan pernyataan yang memiliki lebih dari satu pengertian.
4. Tiap-tiap soal haruslah tetap.
5. Harus disusun dengan teliti.
6. Janganlah soal yang satu bergantung dengan soal yang lain.

d. Beberapa Model Tes Pilihan Ganda ( multiple choice)
Beberapa model tes pilihan ganda:
1. Melengkapi pilihan, Soal dalam bentuk ini terdiri atas kalimat pokok yang berupa pernyataan yang belum lengkap dan diikuti oleh empat atau lima kemungkinan jawaban.
2. Analisis hubungan antar hal, merupakan kalimat pernyataan yang diikuti oleh satu kalimat alasan.
3. Analisis kasus, merupakan simulasi keadaan nyata.
4. Melengkapi berganda, hampir sama dengan bentuk soal melengkapi pilihan.
5. Analisis Diagram, Soal bentuk ini mempermasalahkan diagram, gambar, grafik dan sejenisnya.

e. Mempersiapkan Tes Essay
Yang diperhatikan dalam menyusun tes essay:
a. Tentukan bahwa siswa tidak akan menjawab terlalu banyak atau terlalu panjang sehingga waktunya cukup.
b. Jika beberapa soal essay akan diberikan, usahakan agar ada rentangan kesukaran dalam kompleksitasnya.
c. Tulislah seperangkat petunjuk umum bagi tes tersebut.

Sumber:
Ngalim, Purwanto. 2006. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Catatan Perkuliahan Pengembangan Sistem Pembelajaran

Baca selengkapnya......

Sabtu, 12 November 2011

Prinsip, Jenis Penilaian dan Prosedur Perencanaan Test

Melanjutkan postingan tentang Kedudukan Evaluasi Pendidikan dalam Pengajaran, pada kesempatan kali ini, akan dibahas mengenai Evaluasi Pencapaian Belajar Siswa itu sendiri yang meliputi: bagaimana prinsip-prinsip dasar tes hasil belajar, macam-macam penilaian, dan langkah perencanaan apa saja yang diperlukan dalam menyusun suatu tes. Nah, Berikut pemaparannya:

a. Prinsip-prinsip Dasar Tes Hasil Belajar
Ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan di dalam menyusun tes hasil belajar agar tes tersebut benar-benar dapat mengukur tujuan pelajaran. Ada pun prinsip-prinsip tersebut yaitu:
1. Tes tersebut dapat mengukur secara jelas hasil belajar (learning outcomes) yang telah ditetapkan sesuai denga tujuan instruksional
2. Mengukur sampel yang representatif dari hasil belajar dan bahan pelajaran yang telah diajarkan.
3. Mencakup bermacam-macam bentuk soal yang benar-benar cocok untuk mengukur hasil belajar yang diinginkan sesui dengan tujuan.
4. Di desain sesuai dengan kegunaannya untuk memperoleh hasil yang diinginkan.
5. Dibuat seandal (reliable) mungkin sehingga mudah dinterpretasikan dengan baik.
6. Digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa dan cara mengajar guru.

b. Penilaian Formatif dan Penilaian Sumatif
Penilaian formatif adalah kegiatan penilaian yang bertujuan untuk mencari umpan balik (feedback), yang selanjutnya hasil penilaian tersebut dapat digunakan untuk memperbaiki proses belajar mengajar yang sedang atau yang sudah dilaksanakan. Jadi, penilaian formatif tidak hanya dilakukan pada tiap akhir pelajaran, tetapi bisa juga ketika pelajaran sedang berlangsung.
Penilaian Sumatif adalah penilaian yang dilakukan untuk memperoleh data atau informasi sampai di mana penguasaan atau pencapaian belajar siswa terhadap bahan pelajaran yang telah dipelajarinya selama jangka waktu tetentu. Adapun fungsi dan tujuannya adalah untuk menentukan apakah dengan nilai yang diperoleh, seorang siswa dapat dinyatakan lulus atau tidak lulus.

c. Norm-Referenced VS Criterion-Referenced Tests
Criterion-referenced tests (CRT) adalah tes yang dirancang untuk mengukur seperangkat tujuan yang eksplisit. Dengan kata lain, CRT adalah sekumpulan soal atau items yang secara langsung mengukur tingkah laku-tingkah laku yang dinyatakan didalam seperangkat tujuan behavioral atau performance objectives. Di dalam hubungannya dengan proses belajar mengajar, Dick dan Carey menyatakan adanya empat jenis CRT, yaitu:
a. Entry-behaviors tests, diadakan sebelum suatu program pengajaran dilaksanakan.
b. Pretest, diadakan sebelum pengajaran dimulai, dan bertujuan untuk mengetahui sampai dimana pengasaan siswa terhadap bahan pengjaran yang akan diajarkan.
c. Post-test, diberikan pada setiap akhir program satuan pengajaran.
d. Embedded test, dilaksanakan di sela-sela atau pada waktu-waktu tertentu selama proses pengjaran berlangsung.
Penyusunan norm-referenced test (NRT) berbeda degan CRT. Soal-soal pada NRT tidak ditekankan untuk mengukur penampilan yang eksak dari behavioral objectives. Dengan kata lain, soal-soal pada NRT tidak semata didasarkan atas pengajaran yang diterima siswa atau atas keterampilan atau atas tingkah laku yang diidentifikasi sebagai sesuatu yang dianggap relevan bagi balajar siswa.

d. Perencanaan dalam Menyusun Tes (Langkah-langkah dalam menyusun tes)
Ada pun langkah-langkahnya yaitu:
1. Menentukan atau merumuskan tujuan tes.
2. Mengidentifikasi hasil-hasil belajar (learning outcomes) yang akan diukur dengan tes itu.
3. Menentukan atau menendai hasil-hasil belajar yang spesifik
4. Merinci mata pelajaran atau bahan pelajaran yang akan diukur dengan tes itu.
5. Menyiapkan tabel spesifikasi (semacam blueprint).
6. Menggunakan tabel spesifikasi tersebut sebagai dasar penyusunan tes.

Jadi dari penjabaran di atas, terlihat bahwa tes untuk mengukur hasil belajar siswa, memiliki prinsip-prinsip serta langkah-langkah perencanaan yang sistematis, tidak dapat disusun seenaknya saja tanpa memerhatikan rambu-rambu yang ada. Dengan adanya hal ini, diharapkan suatu tes benar-benar dapat menjadi instrumen yang dapat mengukur apa yang sebenarnya harus diukur. Nah, sekarang muncul suatu pertanyaan, bagaimanakah bentuk-bentuk tes tersebut?? Apakah mereka makhluk halus atau makhluk kasar??:) Untuk menjawab hal tersebut, dapat sobat baca nantinya di sini (Macam Bentuk Tes Hasil Belajar).

Sumber:
Ngalim, Purwanto. 2006. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Catatan Perkuliahan Pengembangan Sistem Pembelajaran

Baca selengkapnya......

Kamis, 10 November 2011

Kedudukan Evaluasi Pendidikan dalam Pengajaran


Dalam proses belajar mengajar, sudah seyogianyalah dilakukan proses evaluasi. Evaluasi tidak hanya berguna bagi guru atau pendidik saja, tetapi siswa atau anak didik, orang tua dan bahkan masyarakat pun memerlukan hasil belajar melalui proses evaluasi yang valid, andal, objektif dan praktis. Evalusi pendidikan tersebut memiliki kedudukan tersendiri di dalam kurikulum dan pengajaran.

a. Pengertian Evaluasi dalam Pengajaran
Dalam arti luas, evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan (Mehrens & Lehmann, 1978:5). Sesuai dengan pengertian tersebut maka setiap kegiatan evaluasi atau penilaian merupakan suatu proses yang sengaja direncanakan untuk memperoleh informasi atau data; berdasarkan data tersebut kemudian dicoba dibuat suatu keputusan. Dalam hubungan dengan kegiatan pengajaran, Norman E. Gronlund (1976) merumuskan pengertian evaluasi sebagai berikut “Evaluasi adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan sampai sejauh mana tujuan-tujuan pengajaran telah dicapai oleh siswa.” Dengan kata-kata yang berbeda, tetapi mengandung pengertian yang hampir sama, Wrightstone dan kawan-kawan (1956 : 16) mengemukakan rumusan evaluasi sebagai berikut “evaluasi pendidikan adalah penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa ke arah tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang telah ditetapkan di dalam kurikulum.”
Dari rumusan-rumusan di atas, sedikitnya ada tiga aspek yang perlu diperhatikan untuk lebih memahami apa yang dimaksud dengan evaluasi, khususnya evaluasi pengajaran, yaitu:
1. Kegiatan evaluasi merupakan proses yang sistematis. Ini berarti bahwa evaluasi (dalam pengajaran) merupakan kegiatan yang terencana dan dilakukan secara berkesinambungan.
2. Di dalam kegiatan evaluasi diperlukan berbagai informasi atau data yang menyangkut objek yang sedang dievaluasi.
3. Setiap kegiatan evaluasi- khususnya evaluasi pengajaran- tidak dapat dilepaskan dari tujuan-tujuan pengajaran yang hendak dicapai.


b. Fungsi Evaluasi dalam Proses Belajar-Mengajar
Fungsi evalusi di dalm pendidikan tidak dapat dilepaskan dari tujuan evalasi itu sendiri. Tujuan evaluasi pendidikan adalah untuk mendapat data pembuktian yang akan menunjukkan sampai dimana tingkat kemampuan dan keberhasilan siswa dalam pencapaian tujuan-tujuan kurikuler. Disamping itu, juga dapat digunakan oleh guru-guru dan para pengawas pendidikan untuk mengukur atau menilai sampai di mana keefektifan pengalaman-pengalaman mengajar, kegiatan-kegiatan belajar, dan metode-metode mengajar yang digunakan.
Secara lebih rinci, fungsi evaluasi dalam pendidikan dan pengajaran dapat dikelompokkan menjadi empat fungsi, yaitu:
1. Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta jeberhasilan siswa setelah mengalami atau melakukan kegiatan belajar selama jangka waktu tertentu.
2. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program belajar.
3. untuk keperluan bibingan dan konseling (BK).
4. Untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang bersangkutan.


c. Hubungan Antara Pengajaran dan Evaluasi
Mahrens dan Lehmann (1978 : 10) mengutip ungkapan yang berbunyi “Mengajar tanpa melakukan tes tidak masuk akal”. Ungkapan ini menunjukkan betapa erat kaitan antara pengajaran dan evaluasi. Demikian pula, Panel mengemukakan sebagai berikut: “Pengukuran adalah langkah awal dari pengajaran. Tanpa pengukuran, tidak dapat terjadi penilaian. Tanpa penilaian, tidak akan terjadi umpan balik, tanpa umpan balik, tidak akan diperoleh pengetahuan yang baik tentang hasil, tidak dapat terjadi perbaikan yang sistematis dalam belajar”.
Dari pernyataan-pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa evaluasi merupakan suatu komponen yang sangat erat berkaitan dengan komponen-komponen lain di dalam pengajaran serta evaluasi dan pengajaran itu saling membatu antara satu dengan yang lainnya.



d. Objek Evaluasi Pendidikan
Sasaran pokok dalam setiap kegiatan evaluasi dalam pendidikan adalah anak didik. Yang harus diperhatikan dalam perkembangan anak didik setelah mengalami pendidikan dan pengajaran selama jangka waktu tertentu, adalah:
a. Bagaimana perkembangan pengetahuannya.
b. Bagaimana perkembangan sikapnya.
c. Bagaimana kecerdasan dan cara berpikirnya.
d. Bagaimana keterampilan dan kecekatannya.
e. Bagaimana perkembangan jasmani dan kesehatannya.


e. Kegunaan Data Evaluasi
Penggunaan data evaluasi dapat diklasifikasikan ke dalam empat golongan, yaitu:
1. Penggunaan Administratif
Administrator dapat menggunakan data evaluasi untuk melengkapi kartu catatan-catatan tingkah laku, minat, kecakapan-kecakapan, dan kartu catatan kumulatif serta menjadi dasar bagi evaluasi pertumbuhan dan perkembangan individu atau untuk pengelompokan kelas.
2. Pengunaan Instruksional
Supervisor (pengawas) dapat menggunakan data atau hasil-hasil evaluasi untuk berbagai keperluan seperti:
a. Membantu atau menolong guru-guru dalam cara mengajar yang lebih baik.
b. Untuk menentukan status kelas atau murid dalam hubungannya denga tujuan-tujuan pokok kurikulum.
Guru juga dapat menggunakan data tes dan data evaluasi untuk berbagai keperluan dan tujuan, yang secara garis besarnya memiliki banyak kesamaan dengan tujuan administrator.
3. Penggunaan Bagi Bimbingan dan Penyuluhan
Guru dan konselor menggunakan data-data yang baik dan tepat untuk memberikan bimbinga nasihat terhadap murid-murid dalam hal pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial seperti bimbingan dalam hal memilih jurusan, mengubah program studi, memberi motivasi untu belajar lebih giat, memilih sekolah tempat melanjutkan, mengenal minat dan kecalapannya sendiri, dan mengembangkan penyesuaian pribadinya.
4. Penggunaan bagi Penyelidikan
Data yang dikumpulkan dengan berbagai teknik evaluasi dapat pula digunakan bagi keperluan tujuan penyelidikan. Seperti misalnya, diperlukan dalam penyelidikan tentang bagaimana keefektivan metode-metode mengajar yang berbeda dalam pengajaran membaca, bahasa, berhitung, atau dalam menemukan kebutuhan-kebutuhan personal dan sosial murid dan lain sebagainya.


f. Program Evaluasi
Program evaluasi ialah suatu program yang berisi ketentuan dan cara-cara tentang penyelenggaraan atau pelaksanaan evaluasi pendidikan di suatu sekolah dan merupakan pegangan atau pedoman bagi guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut.
Ciri-ciri program evaluasi yang baik:
a. Desain atau rancangan program evaluasi itu komprehensif.
b. Perubahan-perubahan tingkah laku individu harus mendasari penilaian pertumbuhan dan perkembangannya.
c. Hasil-hasil evaluasi harus disusun dan dikelompok-kelompokkan sedemikian rupa sehingga memudahkan interpretasi yang berarti.
d. Program evaluasi haruslah berkesinambungan dan saling berkaitan (interelated) dengan kurikulum.

Dari apa yang sudah di jelaskan, terlihat bahwa begitu penting dan kompleksnya evaluasi ini di dalam pengajaran sehingga tidaklah mungkin untuk memisahkan proses pengajaran dengan evaluasi. Rasanya seakan tidak mungkin kita mengetahui progres belajar peserta didik tanpa adanya evaluasi dan tidak mungkin juga kita tahu kemampuan mengajar guru tanpa adanya evaluasi. Nah sekarang timbul suatu pertanyaan, bagaimanakah prinsip, jenis penilaian, serta prosedur perencanaan alat evaluasi, yaitunya tes itu sendiri?? Untuk mengatahui jawabannya, dapat sobat baca di sini (Prinsip, Jenis Penilaian, dan Prosedur Perencanaan Tes).

Demikianlah postingan singkat pada kesempatan kali ini..
Semoga Bermanfaat :)


Sumber: Ngalim, Purwanto. 2006. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Baca selengkapnya......

Selasa, 01 November 2011

Lingkungan sebagai Media Pengajaran

Memanfaatkan lingkungan sebagai media pengajaran termasuk metode yang bagus untuk keluar dari rutinitas dan menciptakan pengalaman baru bagi para siswa. Cara ini bahkan lebih bermakna disebabkan para siswa dihadapkan dengan peristiwa atau keadaan yang sebenarnya secara alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.
A. Teknik Penggunaan Lingkungan
Lingkungan sebagai media dan sumber belajar para siswa dapat dioptimalkan dalam proses pengajaran untuk memperkaya bahan dan kegiatan belajar siswa di sekolah. Prosedur belajar untuk memanfaatkan lingkungan sebagai media dan sumber belajar ditempuh melalui beberapa cara antara lain:
1. Survey
Survey merupakan kegiatan dimana siswa mengunjungi lingkungan seperti masyarakat setempat untuk mempelajari proses sosial, budaya, ekonomi, kependudukan, dan lain-lain.
2. Kamping atau berkemah.
Kemah memerlukan waktu yang cukup sebab siswa harus dapat menghayati bagaimana kehidupan alam seperti suhu, iklim, suasana, dan lain-lain.
3. Field trip atau karyawisata.
Dalam pengertian pendidikan karyawisata adalah kunjungan siswa keluar kelas untuk mempelajari objek tertentu sebagai bagian integral dari kegiatan kurikuler di sekolah.
4. Praktek Lapangan
Praktek lapangan dilakukan oleh para siswa untuk memperoleh keterampilan dan kecakapan khusus. Misalnya siswa SMEA dikirimkan ke perusahaan untuk mempelajari dan mempraktikkan pembukuan, akuntansi, dan lain-lain
5. Mengundang Nara Sumber
Berbeda dengan cara yang telah dijelaskan sebelumnya, penggunaan nara sumber merupakan kebalikannya. Jika pada cara sebelumnya kelas dibawa kemasyarakat, kalau ini para nara sumber yang diundang seperti misalnya tokoh masyarakat ke sekolah untuk memberikan penjelasan mengenai keahliannya dihadapan para siswa.
6. Proyek Pelayanan dan Pengabdian pada Masyarakat
Cara ini dilakukan apabila sekolah (guru dan siswa secara bersama-sama) melakukan kegiatan memberikan bantuan kepada masyarakat seperti pelayanan, penyuluhan, partisipasi dalam kegiatan masyarakat, dan kegiatan lain yang diperlukan.

B. Jenis Lingkungan Belajar
Dari semua lingkungan masyarakat yang dapat digunakan dalam proses pendidikan dan pengajaran, secara umum dapat dikategorikan menjadi tiga macam lingkungan belajar yakni:
1. lingkungan sosial
Lingkungan sosial berkenaan dengan interaksi manusia dengan kehidupan bermasyarakat, seperti organisasi sosial, adat, dan kebiasaan, mata pencarian, kebudayaan, pendidikan, kependudukan, struktur pemerintahan, agama, dan sistem nilai. Lingkunag sosial tepat digunakan untuk mempelajari ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan.
2. Lingkungan Alam
Lingkungan alam berkenaan segala sesuatu yang sifatnya alamiah seperti keadaan geografis, iklim, suhu udara, musim, curah hujan, flora, fauna, sumber daya alam. Lingkungan alam tepat digunakan untuk bidang studi ilmu pengetahuan alam.
3. lingkungan buatan
Lingkungan buatan merupakan lingkungan yang sengaja diciptakan atau dibangun manusia untuk tujuan-tujuan tertentu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Lingkungan buatan antara lain seperti irigasi, bendungan, pertamanan, kebun binatang, perkebunan, penghijauan, dan pembangkit tenaga listrik.

C. Langkah dan Prosedur Penggunaan
Menggunakan lingkungan sebagai media dan sumber belajar dalam proses pengajaran memerlukan persiapan dan perencanaan yang seksama bagi para guru. Ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam menggunakan lingkungan sebagai media dan sumber belajar, yaitu:
1. Langkah persiapan
Ada beberapa prosedur yang harus ditempuh pada langkah ini, antara lain:
a. Dalam hubungannya dengan pembahasan bidang studi tertentu, guru dan siswa menentukan tujuan belajar yang diharapkan diperoleh para siswa berkaitan dengan penggunaan lingkungan sebagai media dan sumber belajar.
b. Tentukan objek yang harus dipelajari dan dikunjungi
c. Menentukan cara belajar siswa pada saat kunjungan dilakukan
d. Guru dan siswa mempersiapkan perizinan jika diperlukan
e. persiapan teknis yang diperlukan untuk kegiatan belajar seperti tata tertib di perjalanan, perlengkapan yang harus dibawa, dll
2. Langkah Pelaksanaan
Pada langkah ini adalah melakukan kegiatan belajar di tempat tujuan sesuai dengan rencana yang telah dipersiapkan. Biasanya kegiatan belajar diawali dan diisi dengan penjelasan petugas mengenai objek yang dikunjungi sesuai dengan permintaan yang telah disampaikan sebelumnya. Siswa bisa bertanya atau juga mempraktekkan jika dimungkinkan serta mencatatnya. Berikutnya, para siswa dalam kelompoknya mendiskusikan hasil-hasil belajar yang telah didapatkan. Akhir kunjungan diakhiri dengan ucapan terima kasih kepada petugas, pimpinan objek, karyawan atau pegawai di instansi, lembaga atau tempat diadakannya kegiatan belajar.
Apabila objek kunjungan sifatnya bebas dan tak perlu ada petugas yang mendampingi, seperti berkemah, mempelajari lingkungan sosial, dan lain sebagainya, maka para siswa dapat langsung mempelajari objek studi, mencatat, dan mengamati atau mengadakan wawancara dengan siapa saja yang menguasai persoalan.
3. Tindak lanjut
Tindak lanjut dapat berupa kegiatan belajar di kelas untuk membahas dan mendiskusikan hasil belajar dari lingkungan yang telah dikunjungi. Setiap kelompok dapat diminta untuk melaporkan hasil yang didapatkan untuk dibahas bersama-sama.
Dalam tahapan-tahapan atau langkah-langkah di atas, hendaknya melibatkan guru dan siswa secara bersama-sama sehingga semua kegiatan belajar dan pemanfaatan lingkungan belajar juga menjadi tanggung jawab para siswa.

Sumber: Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai. 2005. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo

Baca selengkapnya......

Rabu, 26 Oktober 2011

Musik, Kunci Menuju Quantum Learning


Dulu saya pernah memposting mengenai quantum learning, tapi saya teringat kembali kalau kunci dari quantum learning itu sendiri lupa saya tulis...(Maklum udah tua, jadi serba forget..he..he)

Sebenarnya,Musik menempati posisi utama dalam quantum learning dan dapat dikatakan sebagai kunci menuju quantum learning.Ini dikarenakan bahwa musik dapat menyibukkan otak kanan ketika otak kiri sedang bekerja. Tanpa disadari, sebenarnya otak kanan yang bersifat intuitif dan kreatif cenderung terganggu selama rapat, kuliah, dan semacamnya, yang merupakan penyebab peserta didik melamun, dan memperhatikan pemandangan ketika berniat untuk berkonsentrasi.

Berdasarkan penelitian Dr. Georgi Lazanof dalam Deporter dan Hernacki (2009:72), disebutkan bahwa:” Relaksasi yang diiringi dengan musik membuat pikiran selalu siap dan mampu berkonsentrasi”. Hal yang sama mengenai penggunaan musik pada saat pembelajaran berlangsung juga diungkapkan oleh Chris Brewer (2009: 2) yang menyatakan:
“Music is a simple way to set a comfortable atmosphere and help students get in the mood for learning. The use of music throughout the learning cycle offers regular opportunities to reinforce positive moods and keeps students motivated for learning”.

Musik merupakan suatu cara untuk membuat suasana yang nyaman dan menolong siswa mendapatkan mood untuk belajar. Penggunaan musik sepanjang pembelajaran berlangsung dapat membuat mood yang positif tahan lama dan juga menjaga motivasi siswa untuk belajar. Jadi dapat dilihat bahwa penggunaan musik berguna agar siswa siap untuk belajar, mempertahankan konsentrasi, menciptakan mood yang positif, menciptakan suasana yang nyaman dan menjaga motivasi siswa.
Musik, menurut penemuan Dr. Lazanov, yang paling membantu adalah musik barok serperti Bach, Pachelbel, dan Vivaldi. Ini karena kebanyakan musik barok ini mempunyai tempo 60 ketukan per menit, yang sama dengan detak jantung rata-rata dalam keadaan normal.

Apa itu musi Musik Barok??
Musik Barok merupakan musik klasik barat yang digubah pada Zaman Barok (Baroque), kira-kira antara tahun 1600 dan 1750. Zaman ini berlangsung sesudah Zaman Renaisans dan sebelum Zaman Klasik. Sebenarnya, arti kata Barok itu adalah mutiara yang tidak berbentuk wajar, sangat pas dengan seni dan perancangan bangunan pada era tersebut. kemudian kata ini juga dipakai untuk jenis musik yang ada pada zaman tersebut. Beberapa komponis Zaman Barok adalah Claudio Monteverdi, Henry Purcell, Johann Sebastian Bach, Jean-Philippe Rameau, George Frideric Handel, dan Antonio Vivaldi. Musik Barok lazimnya hanya mencerminkan satu jenis emosi saja. Dibanding dengan Musik Klasik dan Romantik, musik Barok jarang mempunyai modulasi atau rubato. Untuk komposisi piano, pedal jarang digunakan saat memainkan musik Barok.

Sumber:
Mike, Hernacki dan Bobbi DePorter. (2009). Quantum Learning. Alih bahasa oleh Alwiyah Abdurrahman. Bandung: Kaifa.

wikipedia

Baca selengkapnya......
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...