Silakan Copy dan sebarkan Content blog ini dengan syarat cantumkan sumber atau URL blog...thanx
Untuk masuk ke Blog, "KLIK" Salah Satu iklan di bawah ini 1X, lalu klik close 2X
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 April 2012

Bentuk Bisnis dan Bentuk Kepemilikan Bisnis


Dalam Bukunya, Entrepreneurship: Menjadi Pebisnis Ulung, Eddy Soeryanto memisahkan antara bentuk bisnis dengan bentuk kepemilikan bisnis. Bentuk bisnis tersebut nantinya terbagi pada beberapa bagian dan bentuk kepemilikan bisnis pun juga demikian. Berikut penjelasannya:

A. Bentuk Bisnis
Setiap bisnis atau usaha dapat dikelompokkan ke dalam tiga bentuk, yakni: Usaha Perseorangan, Persekutuan, dan Perseroan terbatas.
1. Usaha Perseorangan (Sole Proprietorship)
Merupakan bentuk usaha yang paling umum dan paling sederhana karena tidak ada perbedaan hukum yang memisahkan status pemilik tunggal sebagai individu dengan statusnya sebagai pemilik bisnis.
Keuntungan:
a. Mudah dibuat dan mudah juga dibubarkan
b. Seluruh laba dapat ditahan pemilik
c. Sangat fleksibel dalam pengambilan keputusan
Kelemahan:
a. Utang menjadi tanggung jawab pemilik
b. Keterbatasan pendanaan
c. Keterbatasan manejerial dari pemilik
d. Kelanjutan usaha dapat berakhir bila pemiliknya meninggal, pailit, atau gagal

2. Persekutuan (Partnership)
Merupakan bentuk kepemilikan usaha dengan dua pemilik atau lebih yang bersama-sama mengelola perusahaan dan bertanggung jawab atas aliran dana termasuk utang-utangnya. Umumnya persekutuan berbentuk firma atau Persekutuan Komanditer (CV), di mana tidak ada batasan besar dana yang harus disertakan, dan laba dapat berasal dari investor luar. Khusus untuk CV, tanggung jawab atas utang-utang sekutu CV hanya sebatas investasi uang mereka.
Keuntungan:
a. Mudah dibuat
b. Sumber investasi dana lebih banyak
c. Keahlian, pengetahuan, dan keterampilan, dari adanya para sekutu, bisa saling melengkapi.
Kelemahan:
a. Rentan terhadap konflik pribadi
b. Sulit dibubarkan
c. Sulit mengalihkan kepemilikan tanpa seizin sekutu yang lain
d. Semua sekutu ikut menanggung utang yang terjadi atau yang dibuat satu orang

3. Perseroan Terbatas (Corporation)
Merupakan usaha yang berdiri sebagai suatu entitas legal yang terpisah dari pemiliknya dan bertanggung jawab atas hutang-hutangnya sendiri. Di sini, pemilik hanya bertanggung jawab terhadap apa yang diinvestasikannya saja. Pada Perseroan terbatas ini, pemilik dapat disebut sebagai pemegang saham/ shareholder.
Keuntungan:
a. Tanggung jawab terbatas pada investasi pribadi di perusahaan (Limitid liability). Pengadilan hanya dapat menyita dan menjual kekayaan perusahaan, tapi tidak dapat menyentuh harta milik pribadi para investor.
b. Keahlian manajemen yang terspesialisasi
c. Kapasitas keuangan yang lebih luas
d. Efek ekonomi atas operasi berskala besar
Kelemahannya:
a. Sulit dan mahal untuk dibentuk dan dibubarkan
b. Pajak ganda, yakni dikenakan ke perusahaan dan pemegang saham
c. Pembatasan legal akibat jumlah undang-undang yang banyak
Satu hal lagi, Nama Perseseroan terbatas (PT) bisanya berbeda di tiap negara. Kala di Amerika dan Kanada PT bisanya disebut dengan “Inc. (Incorporation)”, di Inggris “Ltd. (Limited)”, dan kalau di Australia “Pty.Ltd. (Proprietary Limited)”.


B. Bentuk Kepemilikan bisnis

Bentuk kepemilikan bisnis suatu perusahaan tergantung pada bagaimana bisnis tersebut awalnya dibentuk. Bentuk kepemilikan bisnis sendiri, menurut Eddy Soeryanto, terbagi atas: pemilikan tunggal, perkumpulan umum, dan hubungan terbatas. Berikut ini ringkasan bentuk-bentuk kepemilikan bisnis yang dapat dijadikan pertimbangan untuk memulai suatu bisnis.

Tabel Bentuk Kepemilikan Bisnis


Sumber Bacaan:
Soegoto, E. S. (2009). Entrepreneurship: Menjadi Pebisnis Ulung. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Baca selengkapnya......

Minggu, 04 Desember 2011

Konsep Efektivitas



1. Pengertian Efektivitas

Menurut Sejathi (2011), efektivitas merupakan “ketepatgunaan, hasil guna, menunjang tujuan.” Soewarno Handayaningrat (1983) dalam Ade Gunawan (2003:2) menyatakan bahwa : “Efektivitas merupakan pengukuran dalam arti terperincinya sasaran atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya”. Ali Muhidin (2009) juga menjelaskan bahwa:

Efektivitas juga berhubungan dengan masalah bagaimana pencapaian tujuan atau hasil yang diperoleh, kegunaan atau manfaat dari hasil yang diperoleh, tingkat daya fungsi unsur atau komponen, serta masalah tingkat kepuasaan pengguna/client.

Berdasarkan definisi-definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa efektivitas merupakan ketepatgunaan suatu program untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

2. Pendekatan yang Digunakan dalam Penilaian Efektivitas

Dalam menilai efektivitas program, Tayibnafis (2000:23-36) dalam Ali Muhidin (2009) menjelaskan berbagai pendekatan evaluasi. Ada pun pendekatan-pendekatan tersebut yaitu:

a. Pendekatan eksperimental (experimental approach). Pendekatan ini berasal dari kontrol eksperimen yang biasanya dilakukan dalam penelitian akademik. Tujuannya untuk memperoleh kesimpulan yang bersifat umum tentang dampak suatu program tertentu dengan mengontrol sabanyak-banyaknya faktor dan mengisolasi pengaruh program.

b. Pendekaatan yang berorientasi pada tujuan (goal oriented approach). Pendekatan ini memakai tujuan program sebagai kriteria untuk menentukan keberhasilan. Pendekatan ini amat wajar dan praktis untuk desain pengembangan program. Pendekatan ini memberi petunjuk kepada pengembang program, menjelaskan hubungan antara kegiatan khusus yang ditawarkan dengan hasil yang akan dicapai.

c. Pendekatan yang berfokus pada keputusan (the decision focused approach). Pendekatan ini menekankan pada peranan informasi yang sistematik untuk pengelola program dalam menjalankan tugasnya. Sesuai dengan pandangan ini, informasi akan amat berguna apabila dapat membantu para pengelola program membuat keputusan. Oleh sebab itu, evaluasi harus direncanakan sesuai dengan kebutuhan untuk keputusan program.

d. Pendekatan yang berorientasi pada pemakai (the user oriented approach). Pendekatan ini memfokuskan pada masalah utilisasi evaluasi dengan penekanan pada perluasan pemakaian informasi. Tujuan utamanya adalah pemakaian informasi yang potensial. Evaluator dalam hal ini menyadari sejumlah elemen yang cenderung akan mempengaruhi kegunaan evaluasi, seperti cara-cara pendekatan dengan klien, kepekaan, faktor kondisi, situasi seperti kondisi yang telah ada (pre-existing condition), keadaan organisasi dengan pengaruh masyarakat, serta situasi dimana evaluasi dilakukan dan dilaporkan. Dalam pendekatan ini, teknik analisis data, atau penjelasan tentang tujuan evaluasi memang penting, tetapi tidak sepenting usaha pemakai dan cara pemakaian informasi.

e. Pendekatan yang responsif (the responsive approach). Pendekatan responsif menekankan bahwa evaluasi yang berarti adalah evaluasi yang mencari pengertian suatu isu dari berbagai sudut pandang semua orang yang terlibat, berminat, dan berkepentingan dengan program (stakeholder program). Evaluator menghindari satu jawaban untuk suatu evaluasi program yang diperoleh dengan memakai tes, kuesioner, atau analisis statistik, sebab setiap orang yang dipengaruhi oleh program merasakannya secara unik. Evaluator mencoba menjembatani pertanyaan yang berhubungan dengan melukiskan atau menguraikan kenyataan melalui pandangan orang-orang tersebut. Tujuan evaluasi adalah untuk memahami ihwal program melalui berbagai sudut pandang yang berbeda.

Sumber:
Ali Muhidin, Sambas (2009). Konsep Efektivitas Pembelajaran. [Online]. Tersedia: http://sambasalim.com/pendidikan/konsep-efektivitas-pembelajaran.html [16 September 2011]
Gunawan, Ade. (2003). Analisis Consumer Decision Model untuk Pengukuran Efektifitas Periklanan. Dalam Jurnal Imiah Manajemen dan Bisnis [Online], Vol 3 (1), 14 halaman. Tersedia: http://www.manbisnis2.tripod.com/3_1_1.pdf [16 September 2011]

Baca selengkapnya......

Kamis, 03 November 2011

Konsep E-Marketing


Pengertian E-Marketing menurut Armstrong dan Kottler (2004:74) adalah sebagai berikut: E-Marketing is the marketing side of E-Commerce, it consists of company efforts to communicate abaout, promote and sell products and services over the internet. E-Marketing adalah sisi pemasaran dari E-Commerce, yang terdiri dari kerja dari perusahaan untuk mengkomunikasikan sesuatu, mempromosikan, dan menjual barang dan jasa melalui internet.

Menurut American Marketing Association yang dikutip oleh Kleindl dan Burrow (2005) marketing adalah proses perencanaan dan pelaksanaan dari ide atau pemikiran konsep, harga, promosi dan distribusi. Marketing dapat diartikan lebih sederhana yakni pembangunan dan pemeliharaan hubungan yang saling memuaskan antara perusahaan dan konsumen.
Saat ini marketing telah berkembang seiring dengan perkembangan teknologi. Aktivitas marketing menjadi lebih luas dengan adanya internet. Penggunaan internet dan fasilitas yang ada di dalam internet untuk melakukan aktivitas marketing dikenal sebagai e-marketing (Kleindl dan Burrow, 2005).
Menurut Boone dan Kurtz (2005) e-marketing adalah salah satu komponen dalam e-commerce dengan kepentingan khusus oleh marketer, yakni strategi proses pembuatan, pendistribusian, promosi, dan penetapan harga barang dan jasa kepada pangsa pasar internet atau melalui peralatan digital lain. Sedangkan menurut Strauss dan Frost (2001) e-marketing adalah penggunaan data dan aplikasi elektronik untuk perencanaan dan pelaksanaan konsep, distribusi, promosi, dan penetapan harga untuk menciptakan pertukaran yang memuaskan tujuan individu dan organisasi.

Keuntungan yang dapat diberikan dengan adanya penggunaan E-marketing bagi perusahaan menurut Jamal(1996:18) yaitu:
a. Mampu menjangkau berbagai konsumen dalam suatu lingkungan yang belum dipenuhi oleh pesaing.
b. Target adalah konsumen yang telah terbagi ke dalam kelompok dan mengembangkan dialog berkelanjutan.
c.Transaksi binis secara elektronik dan dengan biaya yang rendah.
d. Jalur proses penjualan langsung dari produsen ke pengguna tanpa harus melewati jalur distribusi klasik.
e. Dapat menambahkan produk untuk dipasarkan secara cepat dan melakukan perubahan dalam rencana penjualan dengan sangat cepat.
f. Dapat melacak kegiatan penjualan yang sudah terjadi, langkah-langkahnya dan hasil yang didapatkan.

g.Dapat mengawasi pesaing.
h.Menciptakan dialog antara perusahaan dengan konsumen.
i. Dapat mendistribusikan program dan informasi tentang produk melalui E-mail atau file transfer.

Sumber: Tugas Mata Kuliah E-Bisnis

Baca selengkapnya......

Selasa, 08 Februari 2011

Konsep Perilaku Berorganisasi


  1. Perilaku Organisasi adalah Bidang studi yang mempelajari dampak perorangan, kelompok, dan struktur pada perilaku dalam organisasi, dengan tujuan mengaplikasikan pengetahuan semacam itu untuk memperbaiki efektivitas organisasi atau perusahaan. Kaitannya dengan manajemen adalah manajemen memiliki fungsi mulai dari masalah perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, controlling dan evaluasi. Kajian mengenai dampak perorangan kelompok, dan struktur pada perilaku dalam organisasi ini sangat penting bagi disiplin ilmu manajemen dalam upaya menjalankan berbagai fungsinya di atas. Contohnya dalam hal fungsi pengorganisasian SDM. Dalam Pengorganisasian SDM tidak akan terlepas dari yang namanya penempatan, rotasi, demosi, promosi dan lain sebagainya. Untuk melakukan hal ini, perlu dikaji terlebih dahulu bagaimana implikasi atau dampak perilaku individual, kelompok, dan struktur dalam organisasi baru setelah itu dapat memutuskan apakah individu/kelompok dirotasikan, dipromosikan, didemosikan dan lain sebagainya
  2. Organisasi adalah Unit sosial yang dengan sengaja diatur, terdiri atas dua orang atau lebih, yang berfungsi secara relatif terus-menerus untuk mencapai sasaran atau serangkaian sasaran bersama. Keluarga merupakan contoh kecil dari sebuah organisasi karena memenuhi kriteria organisasi. Dimana ada pemimpin yaitu suami, yang dipimpin yaitu istri dan anak-anak dan tentunya keluarga tersebut terus-menerus untuk mencapai sasaran atau suatu tujuan yaitu menggapai keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah.

3. Efektivitas merupakan pencapaian tujuan secara tepat atau memilih tujuan-tujuan yang tepat dari serangkaian alternatif cara dan menentukan pilihan dari beberapa pilihan lainya. Efisiensi merupakan penggunaan sumber daya secara minimum guna pencapaian hasil yang optimum. Kaitannya, hasil studi dalam perilaku organisasi dapat digunakan dalam pengambilan suatu keputusan sehingga tercapailah efektivitas dan efisiensi pada bidang yang dikehendaki. Contohnya memutuskan menempatkan 15 karyawan termuda di customer service setelah sebelumnya diadakan kajian mengenai dampak etos kerja usia muda pada perusahaan. Sebelum melakukan kajian, perusahaan tersebut menempatkan 20 karyawan termuda di customer service, dari hasil yang didapat ternyata hasilnya tetap sama-sama memuaskan. Penempatan 15 karyawan termuda dengan hasil yang sama-sama memuaskan dibandingkan dengan penempatan 20 karyawan termuda adalah suatu efisiensi dan efektivitas.

4. Perbandingan Sumbangan Psikologi dan Sosiologi terhadap Perilaku Organisasi dimana perilaku Organisasi adalah Bidang studi yang mempelajari dampak perorangan, kelompok, dan struktur pada perilaku dalam organisasi. Jadi salah satu objek yang menjadi kajiannya adalah individu manusia. Pada saat menilai manusia tidak akan terlepas dari penilaian kepribadian, kesehatan mental, IQ, kemampuan bekerja secara berkelompok, kemampuan berbicara atau public speaking dan lain sebagainya. Ilmu psikologi dengan disiplin ilmunya yang berusaha menilai, menjelaskan, dan sering kali mengubah perilaku manusia dapat dijadikan landasan dalam menilai kepribadian, kesehatan mental, IQ, dan lain-lain sedangkan sosiologi sebagai Studi tentang hubungan manusia dengan sesamanya dapat dijadikan landasan dalam menilai kemampuan bekerja secara berkelompok, kemampuan berbicara atau public speaking dan lain sebagainya sehingga objek penilaian dapat dinilai secara komprehensif. Hal di atas merupakan perbandingan antara kontribusi dari psikologi dan sosiologi terhadap perilaku organisasi.

Baca selengkapnya......

Senin, 07 Februari 2011

Etos Kerja


Etos sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti adat dan kebiasaan. Menurut Jansen Sinamo, maka etos merupakan kunci dan fondasi keberhasilan suatu masyarakat atau bangsa diterima secara aklamasi. Selain itu, etos merupakan syarat utama bagi semua upaya peningkatan kualitas tenaga kerja atau SDM, baik pada level individual, organisasional, maupun sosial. Selain itu, metode pembangunan integritas bangsa harus dilakukan secara fokus dan serius, membawa misi perbaikan dalam proses berkesinambungan, serta keterlibatan total dari seluruh elemen masyarakat

“ BEBERAPA PENGERTIAN ETOS KERJA ”

1. Keyakinan yang berfungsi sebagai panduan tingkah laku bagi seseorang, sekelompok orang atau sebuah institusi.

2. Etos Kerja merupakan perilaku khas suatu komunitas atau organisasi, mencangkup motivasi yang menggerakkan, karakteristik utama, spirit dasar, pikiran dasar, kode etik, kode moral, kode perilaku,sikap-sikap, aspirasiaspirasi, keyakinan-keyakinan, prinsip-prinsip, standar-standar.

3. Sehimpunan perilaku positif yang lahir sebagai buah keyakinan fundamental dan komitmen total pada sehimpunan paradigma kerja yang integral.

Menurut Jansen Sinamo, Sang Bapak Etos sekaligus Penulis 8 ETOS KERJA PROFESIONAL: navigator Anda menuju sukses, mengatakan dalam bukunya bahwa terdapat delapan etos yaitu:

a. Kerja adalah Rahmat: Bekerja Tulus Penuh Syukur.

Bekerja adalah rahmat yang turun dari Tuhan, oleh karena itu harus kita syukuri.

b. Kerja adalah Amanah: Bekerja Benar Penuh Tanggung Jawab.

Amanah melahirkan sebuah sikap tanggung jawab, dengan demikian maka tanggung jawab harus ditunaikan dengan baik dan benar bukan hanya sekedar formalitas. Rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan yang didelegasikan kepada kita akan menumbuhkan kehendak kuat untuk melakasanakan tugas dengan benar sesuai job description untuk mencapai target yang ditetapkan.

c. Kerja adalah Panggilan: Bekerja Tuntas Penuh Integritas.

Dalam konteks pekerjaan, panggilan umum ini memiliki arti bahwa apa saja yang kita kerjakan hendaknya memenuhi tuntutan profesi. Agar panggilan dapat diselesaikan hingga tuntas maka diperlukan integritas yang kuat karena dengan memegang teguh integritas maka kita dapat bekerja dengan sepenuh hati, segenap pikiran, segenap tenaga kita secara total, utuh dan menyeluruh.

d. Kerja adalah Aktualisasi: Bekerja Keras Penuh Semangat.

Aktualisasi adalah kekuatan yang kita pakai untuk mengubah potensi menjadi realisasi. Pelatihan seperti quantum touch adalah salah satu pelatihan SDM. Ada yang menyebutnya pelatihan etos kerja. Ada tiga cara mudah untuk meningkatkan etos kerja keras, yaitu:

-Kembangkanlah visi sebagai ilham untuk bekerja keras.

-Kerja keras merupakan ongkos untuk mengembangkan diri kita.

-Kerja keras itu baik, menyehatkan dan menguatkan diri kita.

-Kerja adalah Ibadah: Bekerja Serius Penuh Kecintaan.

Segala pekerjaan yang diberikan Tuhan kepada kita harus kita syukuri dan lakukan dengan sepenuh hati. Tidak ada tipe atau jenis pekerjaan yang lebih baik dan lebih rendah dari yang lain karena semua pekerjaan adalah sama di mata Tuhan jika kita mengerjakannya dengan serius dan penuh kecintaan. Etos kerja bukan hanya dilihat manusia, Tuhan Maha Mengetahui.

e. Kerja adalah Ibadah: Bekerja Serius Penuh Kecintaan.

Segala pekerjaan yang diberikan Tuhan kepada kita harus kita syukuri dan lakukan dengan sepenuh hati. Tidak ada tipe atau jenis pekerjaan yang lebih baik dan lebih rendah dari yang lain karena semua pekerjaan adalah sama di mata Tuhan jika kita mengerjakannya dengan serius dan penuh kecintaan. Etos kerja bukan hanya dilihat manusia, Tuhan Maha Mengetahui

f. Kerja adalah Seni: Bekerja Cerdas Penuh Kreatifitas.

Bekerja keras itu perlu, namun bekerja dengan cerdas sangat dibutuhkan. Kecerdasan disini maksudnya adalah menggunakan strategi dan taktik dengan pintar untuk mengembangkan diri, memanfaatkan waktu bekerja agar tetap efektif dan efesien, melihat dan memanfaatkan peluang kerja yang ada, melahirkan karya dan buah pikiran yang inovatif dan kreatif. Pelatihan etos kerja bisa berdampak positif.

g. Kerja adalah Kehormatan: Bekerja Tekun Penuh Keunggulan.

Kehormatan diri bisa kita dapatkan dengan bekerja. Melalui pekerjaan, maka kita dihormati dan dipercaya untuk memangku suatu posisi tertentu dan mengerjakan tugas yang diberikan kepada kita termasuk segala kompetensi diri yang kita miliki, kemampuan dan kesempatan dalam hidup. Spritual EFT, Spiritual Enrichment & Quantum Touch bisa Anda coba.

h. Kerja adalah Pelayanan: Bekerja Paripurna Penuh Kerendahan Hati.

Tahukah Anda kalau ternyata hasil yang kita lakukan dalam bekerja bisa menjadi masukan untuk orang lain dan begitu pula sebaliknya. Sehingga dari proses tersebut kita telah memberikan kontribusi kepada orang lain agar mereka bisa hidup dan beraktivitas dengan lebih mudah.

Baca selengkapnya......

KAIZEN


Secara harafiah Kai = merubah dan Zen = lebih baik. Secara sederhana pengertian Kaizen adalah usaha perbaikan berkelanjutan untuk menjadi lebih baik dari kondisi sekarang. Ada juga orang yang menyebutnya dengan istilah Kaizen Teian yang artinya: "Kaizen" berarti "perbaikan terus-menerus", sementara "teian" artinya "sistem". Jadi, kalau boleh disimpulkan Kaizen Teian artinya adalah suatu sistem organisasi/perusahaan yang komprehensif yang dilakukan dalam rangka perbaikan terus menerus untuk mencapai kondisi yang lebih baik dari hari ini, sehingga bisa membawa nafas baru dalam setiap perusahaan/organisasi. Sasaran utama dari Kaizen adalah menghilangkan pemborosan-pemborosan yang tidak memberikan nilai tambah produk/jasa dari perspektif konsumen. Pemborosan-pemborosan itu perlu dieliminir karena menimbulkan biaya-biaya yang menyebabkan berkurangnya profit. Disamping itu konsumen tidak mau menanggung biaya-biaya yang tidak perlu tersebut.

Kaizen dilakukan oleh semua lapisan karyawan, mulai dari level operator hingga top manajemen. Dua pilar utama Kaizen adalah QCC/QCP (Quality Control Circle/Project) dan SS (Suggestion System). Budaya Kaizen di sebuah organisasi/perusahaan dapat tumbuh jika ditopang oleh kedua pilar tersebut. Dan kedua pilar tersebut dibangun di atas pondasi dengan yang kita kenal sebagai Masalah. Kaizen memiliki konsep berpikir mengenai MASALAH sebagai berikut:

• Masalah adalah kumpulan sesuatu yang berharga yang memicu "ide perbaikan" tiba-tiba menjadi muncul. Biasanya kalau tidak mengalami kesulitan, maka "ide perbaikan" tidak akan muncul.
• Bila ada kesalahan segera perbaiki. Pertanyakan cara kerja yang sekarang, lebih baik memikirkan cara untuk melaksanakan perbaikan dari pada mencari alasan mengapa tidak bisa.Hindarkan alasan-alasan/teori klasik.

• Jangan mengandalkan uang untuk Kaizen, lebih baik melakukan Kaizen pekerjaan dulu dari pada equipment. Dan yang terpenting, jangan menunggu sempurna, 50% OK, segera lakukan.
• Lihat dengan mata kepala sendiri, cari penyebab sesungguhnya dengan jujur dengan menanyakan 5 kali mengapa-mengapa-mengapa-mengapa dan mengapa, sehingga akar permasalahan dapat diketahui dengan baik.

• Kaizen itu tidak terbatas, karena ruang yang paling luas di dunia ini adalah ruang untuk membuat perbaikan. Disini rumus yang digunakan adalah "dibanding 'pengetahuan' 1 orang masih lebih baik 'ide' 10orang".

•Dalam melakukan Kaizen, keselamatan dan kualitas jangan dilupakan.


Penerapan Kaizen

Dalam menerapkan Kaizen, para pemimpin perusahaan/organisasi di Jepang berpegang pada dua prinsip. Pertama, perlu proses atau cara kerja yang baik untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Dengan proses atau cara kerja demikian, kita bisa bekerja lebih cekatan (bukan bekerja lebih berat). Untuk mendapatkan proses yang baik, para pemimpin perusahaan perlu mengetahui sumber masalah-masalah, kemudian meminta ide/gagasan/solusi dari semua karyawannya. Bagaimana pun juga, merekalah yang menjalani pekerjaan sehari-hari/dekat dengan pekerjaannya. Biasanya, solusi terbaik adalah solusi yang paling sederhana, logis, dan mudah dilaksanakan. Kedua, memilih gagasan-gagasan yang bisa dilaksanakan,"mengeksekusinya",dan bersabar menunggu hasilnya.

Hasil Penerapan Kaizen

Hasil dari perbaikan terus menerus ala Kaizen tidak bisa didapatkan dalam waktu semalam. Untuk mendapatkan hasil maksimal, sebaiknya menggunakan model spesifik Kaizen yang tepat untuk perusahaan/organisasi, serta mau menjalani proses bertahap. Dalam proses itu, antara lain, para pimpinan dan manajer harus mampu menetapkan dan menjalankan suatu standar, serta mengontrol kualitas. Mereka juga harus mau mendengarkan ide/saran, berusaha memberikan feed back yang membangun, sekaligus terus memotivasi karyawannya. Para karyawan pun harus lebih aktif memikirkan pekerjaannya, bukan bekerja seperti robot.

Baca selengkapnya......

Learning Organization


Konsep mengenai learning organization pertama kali menjadi istilah yang populer setelah Peter Senge melontarkan gagasannya dalam buku Fifth Discipline. Sejak itu jargon Learning Organization atau terjemahannya Organisasi Pembelajar banyak disebut dan dibicarakan diberbagai kesempatan. Perusahaan di Indonesia mulai banyak yang ‘menyatakan’ bahwa organisasinya adalah ‘learning organization’.

Menurut Peter Senge ada lima disiplin (lima pilar) yang membuat suatu organisasi menjadi organisasi pembelajar.

1. Personal Mastery – belajar untuk memperluas kapasitas personal dalam mencapai hasil kerja yang paling diinginkan, dan menciptakan lingkungan organisasi yang menumbuhkan seluruh anggotanya untuk mengembangkan diri mereka menuju pencapaian sasaran dan makna bekerja sesuai dengan harapan yang mereka pilih.

2. Mental Models – proses bercermin, sinambung memperjelas, dan meningkatkan gambaran diri kita tentang dunia luar, dan melihat bagaimana mereka membentuk keputusan dan tindakan kita.

3. Shared Vision – membangun rasa komitmen dalam suatu kelompok, dengan mengembangkan gambaran bersama tentang masa depan yang akan diciptakan, prinsip dan praktek yang menuntun cara kita mencapai tujuan masa depan tersebut.

4. Team Learning – mentransformasikan pembicaraan dan keahlian berpikir (thinking skills), sehingga suatu kelompok dapat secara sah mengembangkan otak dan kemampuan yang lebih besar dibanding ketika masing-masing anggota kelompok bekerja sendiri.

5. Systems Thinking – cara pandang, cara berbahasa untuk menggambarkan dan memahami kekuatan dan hubungan yang menentukan perilaku dari suatu sistem. Faktor disiplin kelima ini membantu kita untuk melihat bagaimana mengubah sistem secara lebih efektif dan untuk mengambil tindakan yang lebih pas sesuai dengan proses interaksi antara komponen suatu sistem dengan lingkungan alamnya.

Untuk lebih memahami tentang Learning Organization, Mari kita lihat lebih dalam lagi konsep learning organisation yang kemudian dimekarkan oleh penganut Senge yaitu Dan Simpson

Pernyataan Dan Simpson tentang Learning Organization

1. Orang-orang merasakan mereka melakukan sesuatu yang berarti – baik bagi mereka secara personal maupun dalam konteks dunia yang lebih luas. (Karyawan bekerja bukan hanya karena mereka membutuhkan penghasilan tetapi lebih dari itu)

2. Setiap individu di organisasi berkembang, bertumbuh dan memperbesar kapasitasnya untuk berkreasi. (penerapan ide ini banyak dibicarakan sebagai konsep yang paling manusiawi dan progresif dalam mengembangkan organisasi – program MM banyak membahasnya dalam studi kasus sperti perusahaan seperti Microsoft, Honda, 3M)

3. Manusia akan lebih ‘pintar’ jika bekerja bersama daripada bekerja sendirian. Jika Anda ingin sesuatu yang kreatif muncul tugaskan team untuk melakukannya (ide dasar dari proposisi ini adalah ppulernya team based organization – bekerja dengan banyak orang akan

menghasilkan resultan ide dan kinerja yang lebih baik)

4. Visi dari arah perusahaan haruslah muncul dari semua tingkatan organisasi, sehingga mereka bisa memahami bagaimana tindakan mereka saling memperngaruhi satu sama lain.

5. Karyawan bebas melakukan eksperimen, mengambil risiko dan secara terbuka menilai hasil yang telah dicapai. Tidak ada seorangpun yang ‘dibunuh’ karena melakukan kekeliruan

6. Memperlakukan sesama karyawan sebagai rekan kerja, adanya rasa saling menghormati dan percaya satu sama lain. Saling berbicara dan bekerja bersama tanpa memandang tingkatan dan jabatan.

Membentuk learning organization memerlukan komitmen yang kuat dari pemegang saham dan top manajemen. Upaya untuk membentuk learning organization merupakan upaya transformasional yang tidak hanya mengubah budaya kerja tetapi juga menanam dan menginvestasikan perangkat pendukung, infrastruktur, media dan proses pembelajaran itu

sendiri yang tidak sedikit membutuhkan biaya. Membangun learning organization perlu awal yang tepat. Fondasi learning organization terletak pada ada tidaknya sistem dan struktur

organisasi yang tepat dan efektif, pembagian tugas, alokasi tanggung jawab, proses bisnis yang efektif, fasilitas pembelajaran sesuai kebutuhan peningkatan kompetensi inti perusahaan. Penggunaan peta kompetensi yang berisi kelengkapan kompetensi human interaction effectiveness, leadership, characters, kompetensi teknis, pengetahuan industri beserta teknologinya menjadi prasyarat mutlak jika kita ingin berhasil membangun learning organization. Tidak sedikit perusahaan yang mengklaim dirinya sebagai learning organization. Padahal jika kita singkap yang dimaksud learning organization dalam praktiknya hanyalah sebatas membentuk team yang masing-masing anggotanya ditugasi untuk membaca buku-buku manajemen yang ada diperpustakaan atau dari artikel manajemen dan dibuat forum untuk saling mengajarkan ketemannya apa yang telah dibaca dan dipelajari.

Baca selengkapnya......
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...