Silakan Copy dan sebarkan Content blog ini dengan syarat cantumkan sumber atau URL blog...thanx
Untuk masuk ke Blog, "KLIK" Salah Satu iklan di bawah ini 1X, lalu klik close 2X
Tampilkan postingan dengan label Misteri dan Serba-Serbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Misteri dan Serba-Serbi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 April 2012

Penyebab Runtuhnya Peradaban Besar

Jaman sekarang, yang lagi memimpin dunia dengan peradabannya yang gemilang adalah Amerika. Negri PamanSam ini benar-benar menjadi pusat perhatian dan trend center dunia. Mulai dari cara berpakaian masyarakatnya, makanan, pekerjaan, hingga tatanan sosial, sistem kenegaraan, perpolitikan, ekonomi, dan lain sebagainya benar-benar ditiru oleh sebagaian negara-negara di dunia ini. Mereka merasa kemajuan Amerika patut diteladani dengan meniru berbagai hal yang menurut mereka dapat memajukan peradaban mereka.

Jaman dulu kala juga begitu, peradaban besar menjadi objek teladan bagi negara atau bangsa lain. Sebut saja peradaban besar seperti Imperium Romawi dan Imperium Abbasyiah. Kenapa Ane bilang Imperium Romawi dan Imperium Abbasyiah? Ya…Karena dua kerajaan inilah yang merupakan masa keemasan peradaban Barat dan peradaban Timur, kadang ada juga yang menyebutnya masa kejayaan antara kebudayaan yang mewakili peradaban Kristen dan peradaban Islam. Imperium Romawi adalah kekaisaran yang terkuat dan termaju pada zamannya, banyak daerah yang mereka taklukkan dan dijadikan daerah jajahan. Begitu juga dengan Imperium Abbasyiah, luas kerajaannya meliputi daratan Asia dan Afrika…Sungguh peradaban yang menakjubkan…


Peta Kekuasaan Imperium Romawi






Peta Kekuasaan Imperium Abbasyiah


Namun tahukah Sobat??
Ternyata Dibalik kemegahan Peradaban yang mereka miliki, terdapat berbagai pembusukan yang menggerogoti mereka dari dalam. Pembusukan yang menggerogoti ini berakhir tragis dengan runtuhnya peradaban besar yang selalu mereka bangga-banggakan. Pembusukan ini menyebabkan mereka lemah, rapuh dan akhirnya mereka mudah ditaklukkan dan menjadi makanan kaum barbar. Bagimanakah kisah kebusukan ini?? Berikut Ulasannya….Cekibrot…

Keruntuhan Imperium Romawi
Civis Romanus Sum (artinya: Saya Orang Romawi) adalah kalimat yang dipakai oleh Orang Romawi dan menunjukkan kebanggaan orang-orang Romawi pada imperiumnya di masa puncak kejayaannya. Kegemilangan peradaban Romawi menjadikan Eropa sebagai cahaya dunia masa lampau. Kekaisaran Romawi ini berdiri dari tahun 27 SM hingga 476 M. Kota-kotanya sangat besar dengan istana-istana yang megah dan pilar-pilar raksasa. Ekonominya juga sangat makmur. Ilmu pengetahuan berkembang pesat dan sekolah-sekolah tersedia buat semua orang. Akan tetapi, kehebatan mereka membuat mereka lupa diri. Dengan kekayaan berlimpah yang dimilikinya, para kaisar Roma sibuk bermewah-mewahan dan memuaskan nafsunya sendiri. Di masa-masa yang penuh kemegahan seperti ini, tidak ada yang bakal menyangka Roma akan jatuh…

Orang-orang Romawi dilanda penyakit. Saat para penguasa makan, mejanya dipenuhi makanan-makanan lezat yang berlimpah dan tidak akan habis dimakan dalam dua hari. Mereka makan sampai perutnya buncit dan kelelahan. Semua makanan itu juga tidak dihidangkan sembarangan, tapi harus dihidangkan dalam perlengkapan mewah yang terbuat dari emas dan perak. Sambil makan, mereka para penguasa itu, dihibur oleh pelayan-pelayan cantik dan para penyanyi yang berpakaian setengah telanjang sambil menari-nari dengan mesum. Sungguh menyenangkan memang, tapi masalahnya siapa lagi yang sempat memikirkan kerajaan?

Kerajaan makin tak terurus. Sementara itu, Rakyat yang melihat perangai para penguasa yang demikian, akhirnya menjadikan mereka lemah dan terlena. Pemerintahan diseluruh negeri diisi oleh orang-orang yang bekerja dengan tidak jelas dan korup. Rakyat mengisi waktu luang tidak lagi dengan belajar, berpikir, dan memperbaiki diri, namun sibuk menonton hiburan-hiburan vulgar dan brutal di Collosseum. Di sana terdapat pertarungan antar para jagoan gladiator atau antara gladiator dengan binatang-binatang buas. Mereka sepertinya merasakan kesenangan dan kepuasan waktu melihat darah yang merah berceceran di arena. Sungguh Miris….

Tentara-tentara Roma, Praetorian dan Centurion, yang tadinya perkasa, gagah berani, dan menguasai dunia, lama-lama banyak diisi oleh kaum barbar yang lemah, tidak punya disiplin, dan malah suka menindas rakyatnya sendiri. Kasihan orang-orang Romawi ini. Mereka kelihatannya sudah begitu mabuk dengan kesenangan dunia hingga tidak menyadari hari akhir mereka sudah dekat.

Orang-orang Barbar, yang sudah sejak lama menghuni batas-batas Romawi di utara Eropa, melihat semua ini. Roma sudah lemah dan ini waktu bagi mereka. Akhirnya mereka menyerbu masuk ke jantung kekaisaran. Romawi yang besar akhirnya runtuh. Kaisar Romawi terakhir, Romulus Augustus, diturunkan oleh pemimpin suku Jerman bernama Odoacer pada 476 M. Akhirnya setelah ditaklukkan, segala lambang kejayaan Romawi di Eropa, hancur. Pusat pemerintahan yang indah dengan kolom-kolom yang megah, arena koloseum raksasa yang bisa menampung puluhan ribu penonton, dan perpustakaan-perpustakaan besar yang berisi pengetahuan-pengetahuan hebat sepanjang sejarah, hanya tinggal kenangan. Buku-buku karya filusuf dan pemikir paling jenius pun tidak luput dari pemusnahan-dibakar menjadi abu.


Kaisar terakhir Romawi, Romulus Augustus, melepaskan mahkotanya di depan Odoacer


Keruntuhan Imperium Abbasyiah

Kerajaan Abbasyiah berdiri mulai dari tahun 750 M hingga 1258 M. Agama resmi negaranya adalah Islam dan Rajanya bergelar Khalifah. Ibukotanya terletak di Bagdad, Irak pada saat sekarang. Sobat mungkin pernah mendengar kisah 1001 malam, Aladin dengan lampu ajaibnya, atau petualangan Sinbad, cerita ini banyak yang bilang berasal dari imperium ini.
Wilayah kekuasaan Abbasyiah sangatlah luas, rakyatnya berjuta-juta, dan Istananya pun banyak dan indah. Jika berada di dalam Istana, maka akan terasa tenang dan sejuk. Terdapat hiburan musik, tukang cerita, wanita-wanita cantik, makanan enak, minuman segar, karpet-karpet persia yang lembut dan tebal, bantal-bantal besar dan empuk, semuanya sangat enak untuk bersantai sejenak. Kalau menjadi khalifah di imperium ini, sepertinya tinggal dan hidup di Istana memang sangat menyenangkan.

Peradaban Islam dan Bangsa Arab adalah bangsa yang unggul. Para pemimpinnya adalah pemimpin yang unggul. “Paling unggul jika dibandingkan dengan pemimpin bangsa yang lainnya”. Dan keunggulan itu kan harus ditunjukkan kepada dunia. Itu bisa dilakukan dengan membangun istana-istana raksasa yang lebih megah dan lebih indah, bahkan lebih dari istana-istana Romawi. Ini pasti akan membuat para penguasa lain terkagum-kagum dan iri. Lagi pula kekayaan kekhalifahan yang berlimpah-limpah memungkinkan semua itu. Dengan kekayaannya yang hampir tak terbatas, khalifah mampu membangun istana-istana besar. Contohnya khalifah Al-Mutawakkil yang membangun tidak hanya satu atau dua istana besar, tapi belasan istana di Kota Samarra (120 Km Utara kota Bagdad). Al-Mutawakkil juga membangun mesjid terbesar di dunia pada saat itu di kota tersebut.

Salah Satu Peninggalan Abbasyiah: Mesjid Grand Samarra


Dengan kekayaan dan kekuasaan yang besar seperti itu, pasti juga mudah mendapatkan satu hal yang paling diinginkan semua laki-laki, yaitu wanita. Bukan sembarang wanita tentu saja, tetapi wanita-wanita tercantik dari seluruh negeri, yang menarik hati, cantik rupawan, halus tutur katanya, dan enak diajak berbincang-bincang. Mereka diberi tempat istimewa di istana bernama Harem. Wanita-wanita itu tentu tidak keberatan menjadi simpanan khalifah karena semua kebutuhan mereka terjamin dan terpenuhi di istana. Pada saat itu adalah hal yang biasa bagi khalifah untuk memiliki harem yang berisi puluhan bahkan ratusan wanita. Karena jumlahnya sangat banyak, para wanita tersebut saling berupaya merebut perhatian Sang Khalifah. Walau di sana disediakan pakaian yang indah-indah, banyak dari wanita-wanita cantik ini yang merasa tidak perlu memakai pakaian sama sekai kalau sedang berada di dalam harem.
Kehidupan seksual pun makin lama makin bebas. Bahkan beberapa budak lelaki Turki, ghilman, yang masih muda, berwajah tampan, dan berkulit putih tidak jarang diberi pakaian-pakaian yang indah dan wangi-wangian yang seperti wanita. Mereka dipelihara banyak pejabat yang digunakan untuk hubungan-hubungan cinta yang tidak normal.

Para khalifah dan para penguasa yang sangat kaya raya makin suka hidup berlebih-lebihan. Sering kali mereka berlebihan dalam berbuat baik pada rakyatnya, membagi-bagikan banyak uang pada saat perayaan agama atau ulang tahun Sang Khalifah atau berlebih-lebihan dalam membangun mesjid-mesjid dan istana-istana, seperti yang dilakukan khalifah Al-Mutawakkil.
Akan tetapi yang lebih sering berlebihan adalah dalam cara menikmati hidup. Orang-orang makin suka berpesta pora apalagi pada saat ada tamu kerajaan. Makanan-makanan lezat disajikan dalam jumlah yang tidak habis dimakan dalam waktu 3 hari. Semua orang bisa makan sampai perutnya buncit dan kelelahan. Para Khalifah juga hanya mau makan menggunakan pering, sendok, garpu yang dibuat dari emas dan dihiasi batu-batu intan permata. Sambil makan, mereka dihibur oleh wanita-wanita penari perut dengan busana yang minim dan menerawang. Mereka juga tidak minum air biasa. Mereka minum khamr. Sejenis minuman keras yang terlarang pada masa Nabi Muhammad, tetapi pada saat itu, sudah menjadi hal yang biasa.

Semua kenikmatan dunia ini, benar-benar kenikmatan yang nyaris tidak terbatas. Siapa yang tidak ingin? Akan tetapi, masalah segera timbul. Semakin dahsyat kenikmatannya semakin besar juga keinginan banyak orang untuk terus menikmati dan mempertahankan kenikmatan tersebut, kalau perlu dengan cara yang licik bahkan dengan membunuh. Keinginan yang terus menumpuk dalam jiwa akhirnya berubah menjadi sesuatu yang berbahaya, yaitu nafsu. Kehidupan ekonomi terus berjalan, ilmu pengetahuan terus berkembang, namun urusan yang bikin kepala pusing seperti urusan rakyat, tak lagi terpikirkan oleh para khalifah dan penguasa.
Akhirnya lama kelamaan, baik para pemimpin, para penguasa, hingga rakyat yang telah terbuai dengan kemewahan dan kejayaan tidak lagi memikirkan peperangan. Mereka lebih memilih untuk menikmati hidup dengan tuntunan nafsu mereka sendiri. Akhirnya lama-lama negara ini menjadi korup dan terjadi pembusukan disetiap lini. Tentara pun merasa sudah makmur, tidak memiliki semangat perang, dan ingin bersenang-senang. Hasilnya, pada tahun 1258 M, Khalifah terakhir yang malang, Al-Musta’sim, harus bertekuk lutut terhadap penyerangan Bangsa Mongol. Bangsa Mongol pada saat itu dipimpin oleh Hulagu Khan. Pasukan Hulagu Khan ini berhasil mematahkan setiap pertahanan pasukan Khalifah, di tiap daerah imperium Abbasyiah. Mereka merengsek maju dan akhirnya mengalahkan pasukan terakhir yang menjaga Ibu Kota. Setelah mengalahkan pasukan penjaga ibu kota, Ratusan ribu tentara Mongol ini mulai membanjiri gerbang kota Bagdad. Dengan tubuh yang masih dipenuhi darah segar musuhnya, mereka melihat Bagdad dengan segala kesenangannya, kekayaannya, harta karunnya, emas, permata, dan wanita-wanitanya.

Langit serasa gelap hari itu. Bagdad seperti memasuki sebuah mimpi buruk yang paling gelap dan mengerikan. Laki-laki, perempuan, orang tua, dan anak-anak kecil diseret kejalan dan dibantai satu demi satu dengan pedang. Mayat-mayat memenuhi seluruh jalanan sampai sudut-sudut kota Bagdad. Darah dari tubuh-tubuh yang tersayat mengalir ke jalan-jalan kota seperti aliran air waktu hujan. Lebih dari satu juta orang dibantai hanya dalam waktu beberapa hari. Perpustakaan dan sekolah-sekolah semuanya juga tidak luput untuk dihancurkan. Jutaan buku ilmu pengetahuan terbaik di dunia yang susah payah dikumpulkan selama beratus tahun berdirinya Imperium Abbasyiah, dibakar atau paling tidak dihanyutkan kesungai Tigris. Akhirnya peradaban besar pun hilang tinggal kenangan.

Refleksi
Itulah sekelumit mengenai keruntuhan peradaban besar di jaman dulu. Peradaban ini lah yang dapat dikatakan mewakili peradaban Barat dan peradaban Timur di masa jayanya. Di sini terlihat kalau hancurnya mereka karena diri mereka sendiri. Logikanya mereka tidak akan hancur kalau kuat dari dalam dan tidak membusuk di berbagai lini. Bagaimana pun serangan dari bangsa lain, peradaban kuat tidak akan gampang untuk ditaklukkan. Sejarah ini pasti akan terus berputar seperti Roda Setan, terus akan terjadi dan berulang. Pada jaman sekarang kalau ane liat dinegara-negara yang mengaku diri mereka hebat, maju, dan berkuasa, ada kecendrungan bahwa mereka sudah memiliki ciri-ciri seperti peradaban besar jaman dulu, membusuk di berbagai bidang dan menunggu kehancuran. Bahkan yang parahnya, negara belum maju pun alias berkembang, juga ikut-ikutan menyontoh negara maju dan mengikuti arah pembusukan ini. Nafsu terus dijejali tanpa ada batasan, orang-orang lebih memilih untuk terus berkuasa, memupuk kekayaan dan menikmati kenikmatan duniawi. Anak-anak dan pemuda lebih senang menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak penting dari pada belajar, berpikir, dan mengoreksi diri. Para penguasa ingin tetap berkuasa dan menikmati hidup dengan berpesta pora dan main wanita. Hubungan sesama jenis dilegalkan dan dibilang sebagai bentuk dukungan terhadap HAM.

Sekarang muncul pertanyaan…Apakah Indonesia akan seperti peradaban-peradaban besar di atas? Semoga ane, yang baca postingan ini, seluruh bangsa Indonesia, dan umat di dunia, terhindar dari penyakit pembusukan peradaban besar.
Amiin…

Daftar Bacaan:
Laksono, Eko. (2010). Imperium III: Zaman Kebangkitan Besar. Jakarta: Hikmah.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kekaisaran_Romawi
http://id.wikibooks.org/wiki/Yunani_Kuno/Romawi_Kuno
http://id.wikipedia.org/wiki/Kekhalifahan_Abbasiyah
http://id.wikipedia.org/wiki/Khalifah

Sumber Gambar:
http://id.wikibooks.org/wiki/Berkas:Young_Folks%27_History_of_Rome_illus420.png
http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Berkas:Abbasids_Dynasty_750_-_1258_(AD).PNG&filetimestamp=20100702235654
http://www.house-arch.com/wp-content/uploads/2011/09/Samarra-Mosque-Iraq-2.jpg

Baca selengkapnya......

Selasa, 27 Maret 2012

Misteri Jati Diri William Shakespeare, Sang Sastrawan Legendaris Asal Inggris

Setahu ane, cerita Romeo & Juliet ditulis oleh seorang Inggris bernama William ShakeSpeare. Ini cerita begitu menginspirasi dan sudah banyak dipentaskan oleh para seniman dan di apresiasi oleh para kritikus sastra. Romeo & Juliet adalah salah satu karya terbesar Shakespeare. Masih banyak maha karya lainnya. Setidaknya dia menulis 36 naskah, termasuk adikarya semacam Hamlet, Machbet, King Lear, Julius Caesar, Othello, de el el. Tapi tahukah sobat, dibalik ketenaran Shakespeare ternyata tersimpan misteri besar tentang jati diri dia yang sebenarnya. Sampai saat sekarang banyak perdebatan tentang siapakah sebenarnya William Shakespeare ini….Semuanya masih abu-abu…

Karena penasaran, ane mencoba menggali dari berbagai sumber informasi, menganalisa berbagai kemungkinan dan mempertimbangkan berbagai opsi, buka buku, tanya Mbah Google, sehingga lahirlah beberapa argumen tentang William Shakespeare. Nah…inilah hasil penemuan yang ane dapatkan:
1. William Shakespeare adalah William Shakespeare

Potret William Shakespeare

Menurut versi resminya, yang berasal dari pandangan ortodoks, William Shakespeare lahir di Inggris, di sebuah daerah yang bernama Stratford-upon-Avon pada tahun 1564 dan wafat di sana pada 1616. Selama hidupnya , Shakespeare tidak dianggap sebagai penulis, bahkan dia juga tak pernah mengklaim diri sebagai penulis. Shakespeare baru dikenal sebagai penulis pada tahun 1623, tujuh tahun setelah kematiannya. Ketika edisi pertama naskah-naskah Shakespeare muncul, editor buku menyertakan sebuah tulisan pengantar, dimana disinggung secara terus menerus (walaupun tidak secara langsung) bahwa orang dari Stratford-upon-Avon lah yang menulis naskah-naskah yang ada dalam buku tersebut. Ayah Shakespeare adalah seorang yang dulu pernah kaya, namun jatuh miskin. William kecil hidup dan dibesarkan dalam kemiskinan, namun dia masih dapat menempuh pendidikan di Stratford Grammar School, di mana dia belajar bahasa Latin dan sastra klasik.

Ketika William berusia 18 tahun, dia menghamili seorang wanita muda bernama Anne Hathaway. Dia akhirnya menikahi wanita tersebut dan Anne melahirkan beberapa bulan kemudian. Dua setengah tahun kemudian, Anne melahirkan lagi anak kembar untuk William. Jadi sebelum berusia 21 tahun, William sudah harus menafkahi tiga orang anak dan satu orang istri.

Pada awal 1590-an, William berada di London dan bekerja sebagai salah seorang anggota pertunjukan keliling. William cukup sukses menjadi seorang aktor, namun dengan segera dan entah kenapa, dia beralih pada penulisan naskah dan puisi. Pada 1598, William telah dipuji sebagai penulis terbesar di Inggris. Shakespeare tinggal di London selama kurang lebih 20 tahun. Selama itu, dia telah menghasilkan 36 drama, 154 soneta, dan beberapa puisi yang lebih panjang. Dalam beberapa tahun dia menjadi kaya-raya dan pada tahun 1597, dia sanggup membeli rumah (“New Place”) di Stratford. Keluarganya tetap tinggal di Stratford dan dialah yang menyokong hidup keluarganya.

Anehnya, William tak pernah menerbitkan satu pun drama hebat yang dia tulis. Namun para penerbit licik yang menyadari nilai komersil naskah-naskah tersebut, menerbitkan nyaris separuh karyanya dalam bentuk edisi-edisi bajakan. Walau edisi-edisi bajakan tersebut sering kali salah cetak, Shakespeare sama sekali tidak mencegah.

Salah Satu Karya Shakespeare "Hamlet"


Pada tahun 1612, saat berusia 48 tahun, Shakespeare mendadak pensiun dari kegiatan menulis, kembali ke Stratford, dan meneruskan kehidupan bersama istrinya. Dia wafat di sana pada April 1616 dan dimakamkan di pekarangan gereja. Batu nisan yang diduga merupakan makamnya tidak ditulisi namanya. Namun akhirnya, didirikanlah sebuah monumen di salah satu dinding di dekat sana. Tiga minggu sebelum wafat, William menulis surat wasiat dimana meninggalkan sebagian besar hartanya kepada putri tertuanya , Susanna.

Cerita di atas buat ane sungguh dramatis sekali, seperti di sinetron-sinetron. Pertama hidup susah, terus menghamili anak orang, menikah, punya anak, lalu pergi merantau ke Ibu Kota, kemudian sukses di Ibu Kota, menjadi ternama, punya harta berlimpah, akhirnya pensiun, lalu pulang kekampung halaman sampai ajal menjemput. Namun apakah cerita tersebut benar benar dapat mewakili kebenaran jati diri seorang William Shakespeare, Sang penulis legendaris?

Setelah dilakukan penelitian, pengamatan dan investigasi dari para pencari kebenaran yang skeptis dengan keaslian cerita di atas, maka ditemukanlah beberapa kejanggalan. Misalnya, tidak ada catatan resmi di mana Shakespeare dinyatakan pernah menjadi siswa di Stratford Grammar School. Kemudian tidak ada juga siswa atau guru di sana yang mengklaim pernah menjadi teman sekelas atau pengajar Shakespeare. Lalu tidak begitu jelas kebenaran apakah dia pernah memiliki karier gemilang selaku aktor.

Sekilas cerita resmi di atas, yang telah di Amini oleh berbagai kalangan selama ratusan tahun, terdengar masuk akal. Akan tetapi, setelah diteliti lagi lebih dalam, berbagai permasalahan pun bermunculan.

Masalah pertama, bahkan disebutkan sendiri oleh para penulis biografi ortodoks, bahwa informasi soal kehidupan Shakespeare sangatlah sedikit, bahkan jauh lebih sedikit dari yang diharapkan dari seorang tokoh ternama. Dalam usaha menjelaskan permasalahan ini, orang dapat saja berkata, “Shakespeare hidup nyaris 400 tahun lalu, wajar donk sebagian besar dokumen tentang dirinya atau yang ditulis sendiri olehnya hilang.” Kalau menurut ane, perkataan seperti itu terlalu meremehkan jaman di mana Shakespeare hidup. Shakespeare tidak hidup di sebuah negeri terbelakang, zaman batu, atau zaman barbar tapi di Inggris, di masa Ratu Elizabeth I berkuasa. Sebuah masa yang terdokumentasi dengan baik, di mana terdapat mesin cetak, di mana tulisan yang dicetak mudah ditemui, dan dimana terdapat banyak orang yang melek huruf. Tentu saja, banyak dokumen yang telah lenyap, namun beberapa juta dokumen asli dari masa itu masih terpelihara sampai sekarang. Hal Ini sangat berkebalikan dengan Isaac Newton, seorang jenius dari Inggris, yang lahir 26 Tahun setelah Shakespeare meninggal. Dokumen asli tentang Isaac Newton sendiri terdiri atas ribuan dokumen. Begitu juga dengan Galileo (yang dilahirkan di tahun yang hampir bersamaan dengan Shakespeare), Michelangelo (dilahirkan 89 tahun lebih awal) atau bahkan Boccaccio (lahir tahun 1313).

Permasalahan besar dan berdampak penting terhadap eksisnya Shakespeare, dengan keharusan adanya bukti dokumen, adalah fakta bahwa Shakespeare sendiri selama di London nyaris tidak dikenal orang. Shakespeare konon menghabiskan hampir 20 tahun di London, akan tetapi tidak ada satu pun catatan pada rentang 20 tahun itu, di mana ada yang melihat aktor atau penulis naskah ternama ini dengan mata kepala sendiri. Ketika orang misalnya melihat aktor ternama Nicolas Cage atau bertemu dengan penulis ternama JK Rowling, pasti ada orang yang menulis peristiwa tersebut sebagai sesuatu yang perlu dicatat. Tapi apakah masuk akal jika orang-orang yang ada di sekitar Shakespeare, selama 20 tahun masa keemasannya di London, menyaksikan Shakespeare di atas panggung, mendiskusikan syair bersamanya, atau berkorespondensi dengannya, orang-orang tersebut tak merasa pertemuan itu layak untuk didokumentasikan, walaupun hanya dalam bentuk catatan-catatan kecil?

Permasalahan ke dua, Bagaimana dengan naskah drama yang ditulis tangan oleh Shakespeare sendiri? Pastinya itu akan membuktikan bahwa dialah sang penulis legendaris. Sayangnya, tidak ada naskah drama yang ditulis denga tulisan tangannya, atau pun coret-coretan awal, fragmen-fragmen, atau pun karya-karya yang belum diterbitkan . Tidak ada catatan, tidak ada buku catatan, tidak ada memoranda, tidak ada diary. Tidak ditemukan surat pribadi yang ditulis oleh dirinya, bahkan juga surat-surat bisnis sekali pun (para penulis biografinya yang paling awal juga mengaku tidak pernah melihat dokumen yang ditulis dengan tulisan tangan Shakespeare). Melihat kenyataan seperti ini, tampaknya Shakespeare sama sekali bukan penulis, bisa jadi hampir tidak dapat menulis, atau pendapat yang lebih ekstrim, dia mungkin saja adalah seorang buta aksara.

Hal yang menarik dan terkait dengan pernyataan barusan adalah tentang keluarga Shakespeare. Kedua orang tua, istri dan anak-anak Shakespeare semuanya buta aksara. Secara logika, umumnya orang tua pasti tidak akan membiarkan anaknya lebih rendah dari pada dirinya. Orang tua pasti akan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya agar mereka bisa berhasil melebihi dirinya. Jika Shakespeare memang Shakespeare sang penulis legendaris, dialah satu-satunya penulis besar dalam sejarah yang membiarkan anak-anaknya buta aksara.

Permasalahan ke tiga adalah tentang surat wasiat Shakespeare. Dokumen aslinya dapat ditemukan dengan panjang tiga halaman. Disana ditulis daftar hartanya secara rinci, dengan banyak warisan ditetapkan secara spesifik. Anehnya, pada surat wasiat tersebut sama sekali tidak disebutkan masalah puisi, drama, naskah, karya yang sedang digarap, atau hak penerbitan apa pun. Disana juga tidak disebutkan soal buku-buku atau kertas kerjanya. Tidak ada petunjuk bahwa dia ingin naskah-naskahnya yang belum terbit untuk diterbitkan atau bahwa dia pernah menulis puisi atau drama dalam hidupnya.


Salah Satu Potongan Surat Wasiat William Shakespeare


Permasalahan ke empat, pada masa Shakespeare biasanya para penyair Inggris menyelenggarakan pemakaman-pemakaman megah dan mengarang eulogi-eulogi panjang nan indah jika salah satu rekan mereka wafat. Meninggalnya Shakespeare pada 1616 sama sekali tidak disebut penulis mana pun di Inggris. Disini terlihat bahwa tak ada kaitan antara para penyair pada masa tersebut dengan seseorang yang dianggap penulis dari Stratford ini.

Permasalahan kelima adalah sikap terhadap Shakespeare di Stratford-upon-Avon. Walaupun Shakespeare dianggap sebagai penulis terbesar di Inggris dan seorang aktor ternama, tidak seorang pun di kampung halamannya yang menyadari dirinya sebagai pesohor. Ini sungguh mengherankan karena dari kisah yang ada, awalnya Shakespeare ini miskin, lantas setelah merantau dia jadi kaya-raya. Perubahan ini pastinya membuat sanak dan kerabat terheran-heran dan ingin mengetahui apa yang dilakukannya pada saat merantau. Tapi kenyataannya, selama masa hidupnya, tidak satu pun sanak, kerabat, bahkan keluarganya sendiri, yang pernah merujuk Shakespeare sebagai aktor, penulis naskah, atau tokoh sastra dalam bentu apa pun.

Permasalahan ke enam, biasanya kebanyakan penulis drama dan fiksi menyertakan kejadian-kejadian dalam kehidupan mereka dalam tulisan-tulisan yang mereka ciptakan. Tapi drama-drama Shakespeare nyaris tidak punya insiden atau lingkup yang dapat dirunut pada pengalaman Shakespeare sendiri.

Permasalahan ke tujuh, harusnya William Shakespear ini orang terpelajar. Coba perhatikan kosa katanya yang begitu tinggi, keakrabannya dengan bahasa Latin dan Prancis, pengetahuan akuratnya soal istilah-istilah hukum dan pengetahuan luasnya tentang sastra klasik. Akan tetapi semua orang pasti sepakat bahwa Shakespeare tidak pernah kuliah, malah seperti yang sudah di paparkan sebelumnya, dia diragukan pernah mengikuti pendidikan dasar.

Permasalahan ke delapan, Shakespeare (yang benar-benar penulis) kelihatannya memiliki simpati pada kaum aristokrat / bangsawan dan juga berlatar belakang aristokrasi, sangat mengenal kegemaran aristokrasi (seperti berburu rubah dan burung elang), serta akrab dengan kehidupan istana dan intrik-intriknya. Sedangkan Shakespeare sendiri datang dari sebuah kota kecil dan memiliki latar belakang borjuis kecil, bahkan dia bukanlah seorang aristokrat yang tinggal di istana, dan tidak memiliki gaya hidup layaknya seorang bangsawan.

Satu-satunya penjelasan yang bisa diterima akal sehat adalah “William Shakespear” hanyalah nama pena yang digunakan si penulis dalam upaya untuk menyembunyikan identitas aslinya. Upaya itu sangat berhasil sampai-sampai orang disekitarnya atau pun yang berjumpa dengannya, tidak menyadari bahwa mereka sedang berjumpa dengan William Shakespeare yang terkenal itu. Bagi ane pribadi, argumentasi-argumentasi di atas sepertinya sudah cukup untuk membuktikan Shakespeare bukanlah penulis naskah dan “William Shakespeare” adalah nama pena untuk menyembunyikan identitas asli dari penulis kisah Romeo & Juliet tersebut.

2. William Shakespeare adalah Edward De Vere

Edward De Vere


Kenapa Edward De Vere diduga sebagai Shakespear?
Nah…Sobat nantinya akan diajak untuk menelusuri riwayat kehidupan Edward De Vere. Nanti sobat akan melihat banyak sekali kemiripan kisah hidup De Vere dengan kisah-kisah yang ada dalam karya Shakespeare. Kita pastinya sepakat seorang penulis puisi atau drama, sedikit banyaknya pasti menuangkan kisah hidupnya sendiri dalam karya-karya nya. Di samping itu, dari kisah hidupnya (seperti latar belakang, tingkat pendidikan akademis, dan orang di sekitarnya) memungkinkan dugaan bahwa dialah seorang Shakespeare. Nah…biar ga penasaran, silakan Sobat baca bacaan berikut ini, kisah hidup De Vere, Sang bangsawan Inggris…

Edward De Vere dilahirkan pada tahun 1550, seorang putra pewaris Earl of Oxford ke-16, seorang aristokrat kaya raya dan berpangkat tinggi. Sebagaimana kewajiban pewaris gelar, Edward muda menerima pelatihan keterampilan yang harus dikuasai seorang tuan muda (menunggang kuda, kemiliteran, berburu, seni, dansa, musik, de el el). Pendidikan akademiknya juga tak diabaikan. Dia sendiri memiliki guru privat, baik dalam Bahasa Prancis maupun Latin, dan juga mata pelajaran lainnya. Akhirnya, dia mendapatkan gelar sarjana muda dari Universitas Cambridge dan gelas master dari Oxford. Setelah itu, dia belajar hukum selama satu tahun di Gray’s Inn, salah satu Inns of Court terkenal di London.

Ayah Edward meninggal saat dirinya berusia 12 tahun dan ibunya kemudian menikah lagi. Edward tinggal dengan ibunya tapi itu tidak bertahan lama. Dia akhirnya menjadi bangsawan asuh dan dididik oleh seorang ayah angkat. Ayah angkat yang ditunjuk untuk Edward adalah William Cecil, seorang bendahara kerajaan Inggris dan bertahun-tahun menjadi dewan penasehat pribadi Ratu Elizabeth I. Sebagai seorang penasehat senior sang ratu, Cecil praktis menjadi orang yang paling berkuasa dan berpengaruh di Inggris. Akhirnya De Vere muda sesuai dengan hak kebangsawanannya, diperlakukan dengan baik sebagai salah satu anggota keluarga Cecil.

Pada akhir masa remajanya, De Vere diperkenalkan dengan Balairung. Di sini dia bertemu dengan tokoh terkemuka, termasuk ratu sendiri. Ratu sangat terkesan dengan pria muda ini. Selain cerdas, atletis, dan berkarisma, dia juga sangat tampan. Dia pun segera menjadi salah satu favorit ratu.

Ketika berusia 21 tahun, De Vere menikahi Anne Cecil, putri ayah angkatnya sendiri. Karena dibesarkan bersama, dan Anne nyaris seperti adik kecil bagi De Vere, pernikahan mereka agak diluar kebiasaan. (Hal ini mirip dengan karya Shakespeare, kisah Posthumus Leonatus, pahlawan dalam drama Cymbeline, juga seorang bangsawan angkat yang menikahi putri ayah angkatnya sendiri.)

Ketika berusia 24 tahun, De Vere berangkat untuk berpetualang menjelajahi Eropa. Dia mengunjungi Prancis dan Jerman, menghabiskan waktu sekitar 10 bulan di Italia, lalu kembali ke Inggris melalui Prancis. Pada perjalanan menyebrangi selat Inggris, kapal De Vere diserang bajak laut yang berencana menyandera para penumpang untuk mendapatkan tebusan. De Vere memberi tahu bajak laut soal kedekatan pribadinya dengan Ratu Elizabeth. Akhirnya para pembajak merasa akan lebih baik jika dia dilepaskan tanpa meminta uang tebusan, dari pada meminta uang tebusan tapi dengan resiko yang sangat besar. (Insiden ini juga menimpa pahlawan dalam drama Hamlet)

Sementara itu, Anne istrinya melahirkan seorang putri. Anak tersebut lahir delapan bulan setelah De Vere meninggalkan Inggris. De Vere bersikeras itu bukan anaknya. Menuduh istrinya selingkuh dan dia pun menolak tinggal bersama istrinya. Namun setelah 5 tahun berpisah, dia sadar, mencabut tuduhan terhadap istinya dan kembali tinggal bersama istrinya tersebut. (Tuduhan keliru tentang perselingkuhan istri merupakan tema yang sering muncul dalam drama Shakespeare. Misalnya: All’s Well That Ends Well, Cymbeline, The Winter’s Tale dan Othello. Dan dalam tiap kasus, sang istri yang berduka karena dituduh dengan tidak adil akhirnya memaafkan sang suami).

Selama 5 tahun berpisah dari istrinya, De Vere berselingkuh dengan seorang putri istana, yang berakhir dengan kehamilan. Ratu Elizabeth murka mendengar hal ini dan memerintahkan penangkapan De Vere dan mengirimnya ke Menara London. Dia dilepaskan setelah beberapa bulan, namun seorang teman putri itu, yang mendendam karena tindakan De Vere, menyerangnya sampai dia terluka parah. Perkelahian jalanan antara anggota dari keluarga yang berbeda ini berlangsung beberapa lama sampai Ratu sendiri turun tangan dan mengancam akan memasukkan mereka semua ke penjara jika tak mau berhenti (Kisah ini mengingatkan kita pada Romeo and Juliet).

Setelah De Vere tinggal kembali dengan istrinya, mereka akhirnya memiliki 5 anak. Lalu tanpa disangka, Anne yang baru berusia 32 tahun, meninggal mendadak . Empat tahun kemudian, De Vere akhirnya menikah lagi dan istri keduanya ini hidup lebih lama dari pada De Vere sendiri.

Pada 1586, ketika De Vere berusia 36 tahun, Ratu Elizabeth menganugerahi pensiun seumur hidup dengan jumlah yang fantastis, jika diibaratkan pada saat sekarang sama dengan $100.000 per tahun, dan ini tanpa dipotong pajak. Entah apa yang ada di pikiran Ratu dan entah apa yang terjadi, karena Ratu Elizabeth biasanya terkenal bertangan besi dalam hal uang. Yang makin mengherankan, hibah uang pensiun ini diberikan tanpa mengharuskan De Vere melakukan apa pun sebagai imbalannya, atau pun jasa-jasanya dimasa lalu yang layak dianugerahi hibah seperti ini. Santunan ini diberikan secara berkelanjutan dan teratur hingga ratu wafat, dan penggantinya (Raja James I) meneruskan pembayaran santunan ini walaupun ratu telah wafat.

De Vere selalu meminati puisi dan teater, berteman dengan banyak tokoh sastra dan terkenal telah menulis puisi dan drama dengan namanya sendiri pada saat usianya masih muda. Akan tetapi, dia tidak pernah menerbitkan apa pun karena paham pada saat itu tabu apabila seorang bangsawan menerbitkan puisi ciptaannya. (Pandangan semacam ini sangat umum berlaku pada saat itu dan hal yang tabu ini jarang sekali dilanggar).

Setelah turunnya santunan dari Ratu Elizabeth, De Vere tidak pernah lagi menulis dengan namanya sendiri. Namun dalam beberapa tahun, mulai muncullah puisi dan naskah drama atas nama seorang penulis yang tak ternama pada saat itu “William Shakespeare”
Surat yang ditulis Edward De Vere (Dalam Bahasa Prancis)


Akhirnya muncul pertanyaan, mengapa Ratu Elizabeth menganugerahkan santunan yang luar biasa kepada De Vere? Walaupun tak ada alasan yang resmi, penjelasan dan dugaan yang cukup masuk akal adalah Ratu, sebagaimana banyak monarki sebelum dia, menjadi patron /penyokong dari seorang artis berbakat dengan harapan pencapaian seni itu akan mengharumkan masa di mana dia berkuasa. Jika ternyata itu alasannya, maka jelas ratu mendapatkan imbalan yang sesuai. Bahkan, tak ada penguasa sebelum dan sesudah dirinya yang membuat pilihan setepat ini.

Setelah dianugerahi pensiun oleh Ratu, De Vere yang tadinya sangat aktif berkeliaran di Balairung memilih untuk mengundurkan diri dari kehidupan istana. Dari sini kita dapat berasumsi, bisa saja De Vere menghabiskan 18 tahun terakhir hidupnya untuk menulis dan memperbaiki naskah drama dan puisi dahsyat yang membuat “William Shakespeare” ternama. De Vere wafat pada tahun 1604, dimasa adanya serangan wabah penyakit dan dimakamkan dekat kampung halamannya di Hackney, dekat desa Stratford (Perlu dicatat bahwa terdapat dua kota di Inggris yang bernama Stratford, dan pada masa itu, kota ini lebih besar daripada Stratford-Upon-Avon).

Entah itu kebetulan atau tidak, ane merasa Edward De Vere ini sangat cocok untuk ciri-ciri William Shakespeare yang misterius ini.
Pertama, dia punya latarbelakang pendidikan yang sangat baik, mempelajari hukum, dan sangat mampu berbahasa asing (selain Bahasa Inggris, De Vere menguasai Bahasa Prancis dan Latin).
Kedua, dia seorang bangsawan dan memiliki pengetahuan sebagai orang dalam istana beserta intrik-intriknya.
Ketiga, dia memiliki banyak waktu luang yang diperlukan untuk mengarang naskah-naskahnya.
Keempat, dia berminat pada teater sejak kecil. Dikenal menulis puisi dan drama atas namanya sendiri semasa muda. Bahkan, dia disebut-sebut sebagai salah seorang bangsawan yang menulis puisi, tapi karena tabu pada saat itu, karya-karya atas namanya tidak dipublikasikan.
Kelima, drama-drama William Shakespeare mengandung sejumlah besar peristiwa dan karakter yang dapat dikaitkan dengan peristiwa, dan situasi-situasi dalam kehidupan Edward De Vere.
Keenam, entah kebetulan atau tidak, dan entah ini bisa dijadikan petunjuk atau tidak, adanya kemiripan nama orang dan tempat antara Edward De Vere dengan William Shakespeare. Nama Istri De Vere “Anne Cecil” dan nama istri Shakespeare “Anne Hathaway”. De Vere dimakamkan di dekat kampung halamannya di Hackney, dekat desa Stratford, sedangkan William Shakespeare dimakamkan di Stratford-upon-Avon.

Penjelasan barusan adalah hal-hal yang menguatkan De Vere sebagai Willian Shakespeare, namun muncullah sebuah pertannyaan yang dapat memberatkan De Vere sebagai William Shakespeare, Mengapa De Vere menyembunyikan identitas kalau memang dia adalah William Shakespeare, Sang sastrawan legendaris? Toh Kalau dia tidak menyembunyikan pastinya dia akan makin terkenal dan makin dihormati. Ada beberapa kemungkinan penjelasan yang masuk akal, yaitu:
1. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Ada tabu keras di masa itu yang melarang penulisan puisi oleh para bangsawan, atau naskah drama untuk teater komersial.

2. De Vere adalah orang dalam istana. Karena kebanyakan naskahnya terkait dengan kehidupan istana, jika dia mengaku sebagai penulisnya, maka banyak orang pasti akan beranggapan bahwa berbagai tokoh dalam drama tersebut dimaksudkan sebagai parodi-parodi untuk mengejek orang-orang yang benar-benar nyata di istana tersebut. Dengan standar pada masa itu, ini setidaknya akan menjadi alasan untuk menggugat De Vere ke pengadilan. Dengan menyembunyikan identitasnya, De Vere berusaha untuk menghindari hal-hal demikian.

3. Banyak Soneta William Shakespeare ditujukan kepada seorang wanita yang dicintainya. Jika misalkan De Vere mengaku sebagai penulisnya, hal ini akan membuat malu istrinya.

4. Yang lebih parah, banyak soneta-soneta lainnya yang ditujukan kepada seorang pria, dan diartikan sebagai petunjuk bahwa penulisnya merupakan seorang homoseksual atau biseksual. Entah interpretasi ini tepat atau tidak, pengakuan De Vere yang menulis soneta-soneta tersebut pasti akan menimbulkan gosip tak sedap yang akan memnuat malu keluarganya.

5. Bisa saja sebagai syarat pensiun yang dianugerahkan kepadanya, Ratu Elizabeth bersikeras kalau dia harus tutup mulut, tidak boleh menerbitkan apa pun atas namanya sendiri, dan tidak boleh melanggar norma-norma yang berlaku pada saat itu.
Sebenarnya, Kalau memang De Vere adalah William Shakespeare yang asli, kita tidak bisa memastikan 100% apa alasan De Vere menyembunyikan identitasnya sebagai seorang penulis dan sastrawan. Namun kalau menurut ane, De Vere adalah orang yang paling mendekati ciri-cirinya sebagai William Shakespeare, Sang sastrawan legendaris.
Namun beberapa ahli malah menolak teori De Vere sebagai Shakespeare. Sebagian beralasan bahwa De Vere telah meninggal dunia bertahun-tahun (lebih kurang 19 tahun) sebelum karya-karya dalam ‘First Folio’ (berisi 36 naskah drama) Shakespeare dipublikasikan. Sedangkan Shakespeare yang dikenal selama ini meninggal dunia tujuh tahun sebelum karyanya dipublikasikan. Sepertinya memang agak lebih mudah menerima yang meninggal 7 tahun daripada yang meninggal 19 tahun sebelum karyanya diterbitkan.

Bagaimana Sobat, masih penasaran???

Kalau menurut ane simpan dulu rasa penasarannya karena masih ada beberapa orang lagi yang pernah dicurigai sebagai William Shakespeare. Tapi ane akan menyajikannya secara ringkas aja, karena menurut ane ciri-ciri orang tersebut sebagai William Shakespare tidaklah sekuat Edward De Vere. Berikut orang-orang yang dicurigai:

3. William Shakespeare adalah Sir Francis Bacon

Sir Francis Bacon

Sebelum De vere, tokoh yang disebut sebagai penulis asli karya Shakespeare ialah Sir Francis Bacon yang juga merupakan seorang bangsawan dan filsuf pada masa itu. Pendidikan yang cukup membuatnya sanggup untuk menulis puisi dan drama dengan karakter yang begitu kompleks, hal ini membuat banyak dugaan mengarah kepadanya, bahwa ialah sosok yang ada dibalik kesuksesan Shakespeare.

4. William Shakespeare adalah Christopher Marlowe

Christopher Marlowe

Tokoh ini memiliki kisah hidup yang hampir sama dengan Shakespeare, yaitu hidup dengan keterbatasan financial, namun Marlowe sempat mengenyam pendidikan yang cukup tinggi. Sayang, Marlowe tewas terbunuh, dan dua minggu setelah kematiannya pamor Shakespeare sebagai penulis naskah drama pun meroket tajam. Hal ini membuat para anti stratfordian menduga bahwa ialah tokoh penulis asli karya Shakespeare.

5. William Shakespeare adalah Mary Sidney Herbert

Mary Sidney Herbert

Sebagai seorang bangsawan wanita, ia memiliki pendidikan yang tinggi dan dianggap mampu menulis karya yang diakui sebagai karya Shakespeare. Walaupun ketika ‘First Folio’ dipublikasikan Mary telah wafat, namun Shakespeare mendedikasikan karya tersebut kepada kedua anak Mary, ini membuat spekulasi berkembang bahwa mungkin saja memang benar Mary adalah penulisnya.

6. William Shakespeare adalah William Stanley

William Stanley

Ia merupakan seorang bangsawan yang gemar bertualang, memiliki ketertarikan pada drama dan komedi serta memiliki beberapa usaha teater. Muncul dugaan bahwa Stanley lah sebenarnya orang yang menulis karya-karya Shakespeare. Tetapi menurut pihak lainnya, Stanley tak lebih dari rekan kerja Shakespeare.

7. William Shakespeare adalah Fulke Greville

Fulke Greville

Sebagai seorang bangsawan, Greville pun sering disebut-sebut sebagai Shakespeare yang sebenarnya. Ia pernah bekerja bersama Sir Francis Bacon dan Sir William Dyer, keduanya merupakan tokoh yang disebut-sebut sebagai otak dibalik tulisan Shakespeare. Meskipun begitu Gruville tak pernah benar-benar memiliki bukti yang mengarah padanya sebagai penulis asli karya Shakespeare.


Sumber Bacaan:
Hart, Michel H. (2009). 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia Sepanjang Sejarah. Alih bahasa oleh Ken Ndaru, M. Nurul Islam. Bandung: Hikmah.
http://id.wikipedia.org/wiki/William_Shakespeare
http://en.wikipedia.org/wiki/Edward_de_Vere,_17th_Earl_of_Oxford
http://tonyhamidi.multiply.com/journal/item/19/Siapa_penulis_asli_Shakespeare?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem
http://www.memobee.com/index.php?do=c.every_body_is_journalist&idej=889

Sumber gambar:
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/5/5b/Shakespeare-Testament.jpg
http://noemizeta.files.wordpress.com/2010/01/shakespeare.jpg
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/99/Hamlet_quarto_3rd.jpg
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/8/85/Edward_de_Vere.JPG
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/a/af/Darnley_stage_3.jpg
http://www.sciencephoto.com/image/223863/530wm/H4020655-Francis_Bacon,_English_philosopher-SPL.jpg
http://img.wikinut.com/img/9oe-96q8fjj_fvr0/jpeg/0/Christopher-Marlowe.jpeg
http://www.noendpress.com/adarrah/images/marysidney.jpg
http://www.toptenz.net/wp-content/uploads/2011/09/william-stanley.jpg
http://ayearofshakespeare.files.wordpress.com/2010/02/fulke-greville.jpg
http://hankwhittemore.files.wordpress.com/2012/01/rightside-up-french-letter.jpeg

Baca selengkapnya......

Sabtu, 17 Maret 2012

Perpecahan dalam Kekristenan (Trinitas VS Unitarian)


Iseng-iseng baca buku sejarah, ane menemukan beberapa bacaan tentang sejarah awal agama Kristen. Dari yang ane tangkap, sejarah awal agama Kristen, mulai dari awalnya Yesus (yang dikenal juga sebagai Nabi Isa dalam Islam) hingga sekarang memiliki perkembangan tersendiri, perjalanan yang panjang dan kompleks. Karena menurut ane fakta tentang sejarah agama Kristen itu menarik, maka ane merasa perlu sedikit menguraikan apa yang ane baca (soalnya makin sering baca, makin banyak yang numpuk di otak & kayaknya harus di keluarin…he..he). Nah… berikut sedikit ulasannya…Cekibrot..

Dalam hidupnya , Yesus tidak pernah mengklaim diri sebagai Tuhan, apalagi meminta umatnya menyembah dirinya. Bahkan dalam Injil, ketika Yesus disalib, dia meminta pertolongan kepada Tuhan, “Eli! Eli! Lama sabakhtani! (“Tuhan! Tuhan! Kemanakah Engkau!”).

Kehadiran Yesus yang ingin meneruskan dan menegakkan Taurat Musa, dihalang-halangi oleh para imam Yahudi yang tergabung dalam kelompok Sanhendrin yang telah mereguk kenikmatan kekuasaan bersama dengan para penguasa Roma yang korup dan bergelimang dalam pesta-pesta birahi. Ajaran Yesus pada saat itu memandang manusia sederajat & egalitarian dan ini menyebabkan mereka menganggap Yesus sebagai ancaman besar dan sebab itulah Yesus mereka fitnah, mereka buru, dan akhirnya mereka bunuh.

Sepeninggal Yesus, ajaran Taurat Musa yang hendak dihidupkan malah digelapkan dan bahkan dibuat berbagai penafsiran menurut ini dan itu. Sehingga di abad pertama saja telah ada ratusan versi Injil yang masing-masing memiliki pengikutnya. Dari ratusan Injil tersebut, bisa dibagi menjadi dua kelompok besar, yakni yang mengakui Yesus sebagai Tuhan dan satunya lagi menganggap Yesus hanyalah seorang nabi utusan Tuhan dan bukan Tuhan itu sendiri. Kelompok pertama yang menganggap Yesus sebagai Tuhan disebut kelompok Trinitas. Sedangkan kelompok kedua yang memegang erat ajaran bahwa Yesus hanyalah sebagai seorang nabi dan bukan Tuhan disebut kelompok Unitarian. Inilah dua kelompok besar yang saling berhadap-hadapan dalam sejarah awal gereja.

Yesus sesungguhnya hanya diutus kepada kaum Yahudi (Bani Israil) dan tidak membawa ajaran baru. Yesus ditugaskan untuk meluruskan penyimpangan yang dilakukan Kaum Yahudi agar kembali kepada ajaran yang benar seperti yang telah tercantum dalam Taurat Musa. Sebab itulah, sepeninggal Yesus dan para sahabat, tidak ada kelompok penganut kristen dalam jumlah besar.Yesus dan para sahabatnya memang tidak membawa ajaran baru, selain hanya menegakkan hukum Taurat perjanjian lama. Kekristenan pada saat itu, tidak dianggap sebagai agama yang berdiri sendiri dan hanya dimasukkan ke dalam salah satu sekte Yudaisme Yahudi.

Hal yang baru dan tidak diajarkan Yesus dalam Kekristenan, dimulai ketika seorang yang bernama Paulus mulai menyebarkan ajaran Yesus kekalangan non-Yahudi. Sebelum Paulus hadir, para pengikut Yesus mengikuti segala ritual Yudaisme seperti khitan, mensucikan hari Sabtu (Sabbath) sebagai hari khusus untuk beribadah, dan sebagainya. Namun Paulus mengubah semuanya dan dalam Konsili Yerusalem tahun 49 M, Paulus berhasil membuang ritual-ritual Yudaisme tersebut.

Lantas Siapakah sebenarnya Paulus ini? Dalam Tulisannya, 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia Sepanjang Sejarah, Hart (2009: 34-37) menggambarkan Paulus secara singkat, dan berikut riwayat singkat Paulus berdasarkan tulisan Hart:
Santo Paulus hidup sezaman dengan Yesus walau berusia lebih muda, dan menjadi orang yang terdepan dalam penyebaran agama Kristiani. Paulus juga dikenal sebagai Saulus, dilahirkan di Tarsus, sebuah kota di Cilicia (Turki pada saat ini). Walaupun seorang warga negara Romawi, dia memiliki darah keturunan Yahudi. Pada masa mudanya, dia mempelajari bahasa Ibrani dan mendapatkan pendidikan Yahudi yang ketat. Sebagai seorang pemuda, dia pergi ke Yerusalem untuk belajar di bawah bimbingan Rabi Gamaliel, seorang tokoh pengajar Yahudi. Walau Paulus berada di Yerusalem pada saat yang bersamaan denga Yesus, keduanya diragukan pernah bertemu. Setelah Yesus wafat, para pengikut Yesus awalnya dianggap melakukan bid’ah dan menderita penganiayaan. Untuk beberapa waktu, Paulus ikut berpartisipasi dalam penganiayaan ini. Tapi, dalam perjalanan ke Damaskus, dia mendapatkan visi di mana Yesus berbicara kepadanya, dan dia beralih memeluk agama Kristen. Paulus menghabiskan sisa hidupnya untuk berpikir dan menulis soal kekristenan. Selama aktivitas sebagai misionaris, dia berkelana ke Asia kecil, Yunani, Suriah, dan Palestina. Sebenarnya, cara dia menyebarkan agama Nasrani sering memicu pertikaian besar dan hidupnya kadang jadi terancam dalam beberapa kesempatan. Dalam dakwahnya kepada orang-orang non-Yahudi, Paus sangat berhasil jika dibandingkan dengan berdakwah kepada kalangan Yahudi sendiri. Begitu berhasilnya dia berdakwah kepada kaum non-Yahudi sampai-sampai dia disebut “Rasul Kaum Kafir”. Setelah perjalanan panjang sebagai misionaris di timur kekaisaran Romawi, Paulus akhirnya kembali ke Yerusalem. Dia di tangkap di sana dan akhirnya dikirim ke Roma untuk diadili. Tidak pernah diketahui bagaimana hasil pengadilan tersebut, namun pada akhirnya (kemungkinan sekitar tahun 64 M), dia dihukum mati di dekat Roma. Dalam tulisannya, Hart juga menambahkan bahwa pengaruh Paulus pada teologi Nasrani tidak terhingga. Ini disebakan karena pemikiran-pemiran Paulus banyak dianut sampai sekarang. Pemikiran Paulus tersebut mencakup: (1) Yesus bukan sekedar nabi yang terilhami, melainkan juga bersifat Illahi (ke-Tuhanan); (2) Kristus wafat demi dosa kita, dan deritanya bisa menebus dosa kita; (3) Manusia tidak bisa memperoleh keselamatan dengan hanya mengikuti perintah kitab suci, tapi hanya bisa selamat dengan menerima Kristus, dengan seseorang menerima Kristus, maka dosa-dosanya akan diampuni.

Paulus

Upaya yang dilakukan Paulus mendapat tantangan dari banyak pengikut Yesus. Mereka menyatakan Paulus telah melakukan heresy (penyesatan). Saat itu kelompok Paulus merupakan minoritas dan berjalan hingga tahun 70 M. Kelompok penjaga kemurnian ajaran Yesus dipimpin oleh Jacques yang dipercayai masih memiliki hubungan darah dengan keluarga Yesus. Dia didampingi oleh Petrus dan Yohanes (yang dikenal juga sebagai nabi Yahya dalam Islam). Kerabat Yesus memegang peranan penting dalam menjaga kemurnian Taurat Musa.
Namun sejak pemberontakan Yahudi terhadap Romawi dan jatuhnya Yerusalem pada tahun 70 M, keadaan menjadi berbalik. Ajaran Paulus yang didukung para pendeta dan imam Yahudi makin populer. Ajaran ini makin lama makin jauh dari keasliannya dan berkembang menjadi sebuah agama yang sama sekali baru. Perseteruan pun kian tajam dan umat Yesus terbelah dalam ratusan sekte-sekte kecil dengan Injilnya masing-masing.

Dr. Muhammad Ataur Rahim dalam bukunya “Jesus a Prophet in Islam” (London, 1979) mengungkap tentang adanya keberadaan kaum Arian. Kaum Arian merupakan kelompok yang menolak Ketuhanan Yesus dan kaum ini dipimpin oleh Arius (270-350 M), seorang Prebyster (Imam Kecil) di Iskandariyah.
Arius

Menurut Arius, Yesus Kristus itu makhluk, sedangkan sifat-sifat ketuhanan yang ada pada dirinya bukan sifat yang hakiki, melainkan anugerah dari Tuhan. Arius mendapat dukungan dari Mesir, Palestina, Nocimedia, Maradonia, Assiut, dan bahkan Patriarch Konstantinopel. Lawan Arius paling keras adalah Athanasius, Uskup Iskandariyah.

Athanasius

Kontroversi ini membuat Kaisar Konstantin mengumpulkan para Patriarch dan uskup di seluruh negeri sebanyak 2.018 orang dan bersidang di Nicaea (325 M). Ini adalah konsili Oikumenis pertama dalam sejarah kekristenan, untuk membicarakan Yesus itu Tuhan atau bukan. Dalam konsili, 1.700 uskup sepaham dengan Arius dan sisanya sejalan dengan Athanasius. Namun Konstantin enggan mengambil keputusan karena dirinya merupakan pendukung Trinitas. Konsili pun dibubarkan. Namun setelah itu, Konstantin mengumpulkan para uskup pro- Athanasius. Lewat pemungutan suara rekayasa, Konstantin akhirnya memenangkan ajaran Athanasius dan dijadikan ajaran resmi di Roma. Namun konsili Nicaea belum sepenuhnya merumuskan konsep trinitas. Baru pada konsili Konstantinopel (381 M), dan Konsili Chalcedon (451 M), Roh Kudus ditetapkan sebagai Tuhan. Maka lengkaplah Trinitas.


Konsili Nicea

Konstantin sebenarnya berkeinginan menyatukan ajaran Kabbalah Paganisme Roma yang bersumber pada penyembahan Dewa Matahari ke dalam kekristenan. Hal ini dilakukan untuk menghormati kelahiran Dewa matahari, dimana hari kelahiran Dewa matahari sudah begitu merakyat dan sulit dihapuskan. Oleh karena itu, perayaan kelahiran Dewa matahari ini tetap dilakukan tetapi dialihkan pada perayaan kelahiran Yesus Kristus, sang matahari sejati. Upayanya mendapat dukungan dari para imam Yahudi yang memang telah lama memusuhi Taurat Musa. Oleh sebab itu, sedikit banyaknya kekristenan pada saat sekarang diwarnai dengan Paganisme Roma yang bersumber pada penyembahan Dewa Matahari.
Nasib Arius sendiri, akhirnya ia dibuang ke sebuah pulau. Sedangkan Athanasius dan Konstantin sendiri, di akhir hayatnya mengakui dogma Unitarian dan menyatakan Trinitas sebagai paham yang tidak berdasar.

Sumber Bacaan:
Hart, Michel H. (2009). 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia Sepanjang Sejarah. Alih bahasa oleh Ken Ndaru, M. Nurul Islam. Bandung: Hikmah.

Tn. Nicea 325: Ketika Yesus Disahkan Jadi Tuhan. Eramuslim diggest: Islamic Thematic Handbook, edisi 6, 86-89.

http://en.wikipedia.org/wiki/Athanasius_of_Alexandria

http://en.wikipedia.org/wiki/Arianism

http://www.sarapanpagi.org/tanggapan-tuduhan-mitologi-tentang-yesus-kristus-vt750.html

Baca selengkapnya......

Minggu, 11 Desember 2011

Asal Mula Nama Bulan

Tiap awal bulan ane sering mikir, skarang udah bulan apa ya?? Goblok juga klo ampe ga tau skarang udah bulan apa..ha..ha..Pas liat kalender, ternyata bulannya udah di penghujung taon, Ane sempat mikir juga dari mane ni kalender dapat nama-nama bulan yang terdiri dari 12 bulan?? Gimana Sejarahnya ampe ada 1 taun punya bulan dengan nama-nama yang unik??
Dari awal mikir kayak gitu, ane langsung browsing d internet & ternyata nama-nama bulan udah d konsep dari jaman dulu kala..
Dari hasil surfing yg ane dapat, awalnya Bulan ntu di jaman Romawi Kuno, cuman berjumlah 10. Alasannya, ketika tiba musim dingin mereka tidak bisa bertani jadi tidak masuk hitungan kalender.Oh ya, jaman ntu kalendar dipahat dibatu dan kemudian batu-batu itu akan dikirim ke daerah-daerah jajahannya Romawi.
10 bulan itu adalah :
1. Martius (31)
2. Aprilis (30)
3. Maius (31)
4. Junius (30)
5. Quintilis (31)
6. Sextilis (30)
7. Septalis (31)
8. Octolis (31)
9. Novelis (30)
10. Decemberis (31)
Dan musim dingin 61 hari sisanya itu tidak dimasukin dalam kalendar. Akhirnya ada 1 orang bernama Numa Numae Pompilus yang mengadakan sedikit reformasi kalender. Dia ini adalah orang pertama yang mendirikan Institusi Pontiface (Kepala Agama).

Jadi dia butuh kalendar yang bisa dijadikan patokan kapan harus diadakan upacara dan tidak hanya buat bertani.
Setelah dipertimbangkan, dia membutuhkan kapan tanggal yang jatuh pada 2 minggu sebelum musim dingin berarkhir, untuk mengadakan upacara ritual menyambut musim semi.
Akhirnya ditambahkan 2 bulan yaitu Ianuarius dan Februarius. Ianuarius berjumlah 29 hari dan februarius hanya berjumlah 28 hari. Jadi total hari dalam 1 thn sekarang adalah 355 hari.
Martius (31 days)
Aprilis (29 days)
Maius (31 days)
Junius (29 days)
Quintilis (31 days)
Sextilis (29 days)
September (29 days)
October (31 days)
November (29 days)
December (29 days)
Ianuarius (29 days)
Februarius (28 days)

Numa Numae Pompilus


Sekarang, seperti kita tahu bahwa sistem kalendar dibuat berdasarkan pengamatan manusia terhadap munculnya bulan atau matahari, dalam kasus Romawi dua-duanya dipakai.
Romawi mendasarkan perhitungan kalendarnya terhadap perhitungan kalendar Yunani dan Yunani tidak menggunakan matahari dan bulan tetapi berdasarkan kemunculan bintang Sirius.
Sayangnya kemudian rada kacau. Para astronomer yang ditugaskan untuk memperhatikan gerak matahari, bulan dan konstelasi menjadi tidak sinkron dengan perhitungan kalendar dan perayaan keagamaan menjadi rancu dan tidak tetap setiap tahunnya.
Jadi diadakan bulan baru yaitu bulan ke 13 yang disebut Marcedonius yang jumlahnya 27 hari. Jadi sekarang jumlah hari dalam 1 taun BISA menjadi 378 hari. Jadi setiap 2 thn sekali, bulan ini akan disisipkan dan menyebabkan rata-rata hari dalam 1 tahun adalah 366 hari dan itu sama dengan 1 tahun solar year.
Tapi, penyisipan bulan ini adalah menjadi hak Pontifex Maximus dan karena sering kali terjadi penyalahgunaan hak-hak ini dalam politik Romawi seperti penambahan bulan MARCEDONIUS ini 2 bahkan 4 kali berturut untuk memperpanjang masa jabatan seorang consul dan kemudian selama 4 tahun berikutnya tidak ada penambahan, maka hal ini sering membuat kacau perhitungan gaji, dan juga masa jabatan seseorang.
Akhirnya pada thn 45 SM, Julius Caesar mereformasi lagi kalendar ini dan menjadi:
Januarius,
Februarius,
Martius,
Aprilis,
Maius,
Iunius,
Quintilis,
Sextilis,
September,
October,
November,
December,

Julius Caesar

Januari dipilih sebagai bulan pertama karena diambil dari nama dewa romawi Janus yaitu dewa penjaga gerbang Olympus. So diartikan sebagai gerbang menuju tahun yang baru.
Dan juga karena 1 januari jatuh pada puncak musim dingin, maka disaat itu biasanya pemilihan consul diadakan, karena semua aktivitas umumnya libur dan semua senat dapat berkumpul untuk memilih konsul, dan dibulan Februari konsul yang terpilih dapat diberkati dalam upacara menyambut musim semi yang artinya menyambut hal yang baru.
Awalnya bulan juli adalah bulan kelima dalam kalender dan disebut Quintilis, yang berarti yang ke lima. Bulan ini memiliki 30 hari. Ketika terjadi penambahan dua bulan oleh Numa Pompilius dan pergeseran bulan oleh Julius Caesar maka bulan ini menjadi bulan ke tujuh, dan jumlah harinya pun ikut berubah menjadi 31 hari.
Untuk menghormati Julius Caesar, nama bulan Quintilis ini kemudian diubah menjadi Julius.

Kaisar Augustus, Pengganti Kaisar Julius, juga sangat berperan dalam sejarah perhitungan bulan dalam kalender Romawi. Bangsa Romawi dulu menyebut bulan Agustus dengan sextilis yang berarti ke enam. Mereka kemudian mengubah namanya menjadi Augustus untuk menghormati pengganti kaisar Julius ini. Karena Kaisar Augustus tidak mau bulannya memiliki jumlah hari yang lebih pendek dari Julius Caesar maka ia “mencuri” satu hari dari bulan Februari dan menyebabkan bulan Agustus berjumlah 31 hari dan Februari berjumlah 28 hari.

Oktavianus Augustus


Nah Di atas adalah sejarah awal hingga perkembangan nama-nama bulan, gimana klo dari namanya sendiri?? Dari mana sich asalnya nama-nama bulan ntu?? Tadi sedikit udah disinggung seperti Bulan Januari namanya berasal dari Dewa Janus, nah…Bagaimana Dengan yang lain?? Ane surfing lagi & Ternyata nama-nama bulan emang sebagian diambil dari Dewa-dewanya bangsa Romawi…


Dimulai dari Januari diambil dari bahasa latin, yaitu Janus , yang merupakan nama dewa pintu dalam mitologi Romawi kuno. Dewa Janus memiliki dua wajah, satu menghadap ke depan, satu lagi menghadap ke belakang. wajah yang menghadap ke depan digambarkan selalu tersenyum, sementara wajah yang menghadap belakang terlihat muram.







Februari, diambil dari bahasa Latin, Februus, yang merupakan nama dewa penyucian. Pada bulan ini bangsa Romawi kuno melakukan upacara penyucian.










Maret dinamakan dari Martius atau Mars yaitu dewa perang bagi bangsa Romawi kuno. Bulan ini adalah bulan pertama mucim semi yang merupakan mulainya kampanye militer, karena itu dinamakan dengan nama dewa perang, dulunya bulan Maret menjadi bulan pertama dalam setahun sebelum ada bulan Januari dan Februari.












April ada beberapa versi mengenai asal mula nama April. pertama, dari kata Latin ‘aperirie’ yang berarti terbuka, sebagai gambaran musim semi dimana bunga-bunga mekar. versi kedua, karena bulan-bulan sebelumnya dinamakan dari nama dewa-dewi, nama April diambil dari Aphrodite yaitu sang dewi kecantikan.













Mei berbeda dari bulan-bulan sebelumnya yang mengadaptasi nama dewa-dewi Romawi, bulan Mei diambil dari nama Dewi Yunani, yaitu Maia. Dewi Maia adalah dewi kesuburan. terkadang juga disebut Dewi Fortuna, atau pembawa keberuntungan.










Juni dari Dewi Juno yang dalam mitologi Romawi adalah istri Dewa Jupiter. dalam mitologi Yunani, Dewi Juno disebut Hera, yang merupakan istri Zeus.










Juli dulunya ketika Maret menjadi bulan pertama dalam tahun Masehi , bulan Juli bernama Quintilis yang artinya kelima. sebagai penghormatan bagi kaisar Romawi, Julius Caesar, namaQuintilis diubah jadi Juli.

Agustus penamaan bulan Agustus mirip dengan bulan Juli. awalnya bernama Sextilis yang berarti bulan ke-6 namun diganti Augustus, yang merupakan kaisar Romawi.

September berarti ketujuh, diambil dari bahasa Latin”Septem”, meski bergeser menjadi bulan ke-9 nama september tidak diganti.

Oktober sama seperti September, tidak mengalami perubahan nama ketika terjadi pergeseran bulan Oktober berasal dari kata “Octo” yang berarti delapan.

November, dari bahasa Latin”Novem” artinya bulan kesembilan.

Desember , dari kata “Decem” bahasa Latin artinya Sepuluh.

Sumber:
http://www.bacasaya.net/asal-usul-nama-bulan-januari-desember
http://millicent.blogdetik.com/2011/06/07/asal-mula-nama-nama-bulan/
http://unosa.blogspot.com/2011/10/asal-mula-nama-bulan-kalender-masehi.html
http://indonesiaindonesia.com/f/48154-asal-usul-nama-bulan/



Baca selengkapnya......

Selasa, 22 November 2011

Asal Mula Nama Hari

Bagi sebagian orang, khususnya pada jaman dulu kala, ada kepercayaan bahwa langit itu terdiri atas 7 lapis. Ini ada kaitannya dengan tujuh benda langit yang memiliki jarak yang
berbeda antara satu dengan yang lainnya. Dengan semakin cepat gerakan benda langit tersebut jika diamati dari bumi, maka benda tersebut dianggap memiliki jarak yang lebih dekat dengan bumi, lalu hal ini digambarkan seolah-olah keseluruhan benda langit tersebut berada pada lapisan langit yang berbeda-beda dan mereka mengelilingi bumi yang berada di tengah.

Bumi Sebagai Pusat Tata Surya

Pada lapisan yang langit pertama ada Bulan,benda langit yang bergerak cepat sehingga di anggap paling dekat dari Bumi.
Langit yang kedua ditempati Merkurius ( bintang Utarid).
Venus (bintang kejora) ditempat ketiga.
Kemudian Matahari di posisi empat.
Dilangit kelima adalah Mars (bintang Marikh)
Pada lapisan langit ke enam ada Jupiter (bintang musytari)
dan pada lapisan langit ke-7 ada Saturnus (bintang Ziarah).
Inilah keyakinan lama yang menganggap Bumi sebagai pusat semesta. Orang-orang dahulu (khususnya Romawi dan Yunani) juga percaya bahwa ketujuh benda langit itu adalah dewa-dewa yang memengaruhi kehidupan di Bumi. Pengaruh-nya bergantian dari jam ke jam, dengan urutan mulai dari yang terjauh (menurut pengetahuan mereka) yaitu Saturnus, sampai yang terdekat yakni Bulan. Pada jam 00.00, Saturnus-lah yang dianggap berpengaruh pada kehidupan manusia. Karena itu, hari pertama disebut Saturday (hari Saturnus) dalam bahasa Inggris, atau Sabtu dalam bahasa Indonesia. Ternyata jika kita menghitung mundur hari sampai tanggal 1 Januari tahun 1 Masehi, tanggal 1 tersebut memang jatuh pada hari Sabtu.
Dalam Mitologi Romawi, Saturn adalah dewa pertanian Roma, dan hari ini dikhususkan untuknya. Planet ke-6 dinamakan untuk menghormati dewa ini. Di India, dewa pertanian ini dinamakan Dewa Shani Pooja.


















Bila diurut selama 24 jam, jam 00.00 berikut-nya, maka jatuh pada Matahari. Jadi-lah hari itu dinamakan sebagai hari Matahari (Sunday). bahasa latin Sunday adalah Dies Solis. Orang-orang Babilon menyembah matahari sebagai Shamash, dan nama-nama yang digunakan untuk itu adalah: Baal, Moloch, Ahura-Mazda, Dagon, Ra, Sol, Marduk, Mithras, Khrisna, Aton, Woden, Zeus, Deus, dan Gott.





Setelah Sun’s day ada Moon’s day (Monday) atau hari bulan. Bahasa latinnya, Dies Lunae.










Hari berikut-nya adalah Tiw’s day (Tuesday). Bahasa latinnya “dies Martis”. Tiw adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewa Mars (dewa perang Romawi kuno). Orang-orang Yunani kuno memanggil hari ini ‘Tiu Daeg’. Tiu adalah nama dari anak laki-laki Woden dan Frigga.








Berikut-nya adalah Woden’s day (Wednesday). Bahasa latinnya “dies Mercurii” . Woden merupakan Dewa tertinggi dalam Mitologi Norse. Di Swedia dan Denmark, hari ini disebut Onsdag, yang berasal dari bahasa asli Norse. Bangsa Romawi memuja Dewa mereka sendiri, Merkuri, dengan menamai hari keempat untuknya dan dalam Dalam bahasa Latin disebut dies Mercuri. Bangsa Jerman menyebut hari ini Mittwoch, yang artinya “mid-week”. Woden dipercayai sebagai suami dari Frigga, dan bapak dari Thor.









Berikut-nya lagi Thor’s day (Thursday). Bahasa latinnya “dies Jovis”. T
hor adalah nama Anglo-Saxon untuk Dewa Jupiter (dewa Petir, raja para dewa Romawi). Dalam kalender Romawi, hari kelima berasal dari bahasa Latin dies Jovis, artinya “Jove’s Day”, ditujukan pada Jove, atau Jupiter, dewa hujan dan petir, salah satu Dewa tertinggi dalam Mitologi Romawi. Bangsa Jerman menyebutnya, “Thunder day”. Jove adalah Dewa Guntur Norse dan anak laki-lakinya Woden, dikenal juga sebagai Taranus, atau Dutch Doonner (nama yang diberikan pada rusa kutubnya Santa Claus).




Terakhir adalah Freyja’s day (Friday). Basa latinnya dies Veneris. Dikenal juga sebagai Frigga, istri dari Woden, salah satu lambangnya adalah ikan (lambang kesuburan), yang sering dipakai sebagai lambang di agama Kristen. Orang-orang Roma memanggilnya Astarte, atau Venus. Dia adalah Earth Mother, dengan banyak panggilan seperti: Asherah, Astaroth, Ishtar, Easter, Nanna, dan lainnya. Orang-orang Yunani menghormati dewi Aphrodite, Dewi cinta, kecantikan dan kenikmatan seks… pada hari ini.



Ada lagi nama hari dalam bahasa Arab. Kalau dalam bahasa Arab, jumlah hari yang ada tujuh itu, nama-nama hari-nya disebut berdasarkan urutan: satu, dua, tiga, sampai tujuh, yakni ahad, itsnain, tsalatsah, arba’ah, khamsah, sittah, dan sab’ah. Bahasa Indonesia mengikuti penamaan Arab ini, sehingga menjadi Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, dan Sabtu. Hari keenam disebut secara khusus: Jum’at, Hal ini disebabkan karena penamaan yang diberi-kan Allah di dalam Al-Qur’an, yang menunjuk-kan ada-nya kewajiban shalat Jum’at berjamaah.
Penamaan Minggu berasal dari bahasa Portugis, Dominggo, yang berarti hari Tuhan. Ini berdasar-kan kepercayaan Kristen bahwa pada hari itu Yesus bangkit. Tetapi orang Islam, khususnya di Indonesia, memiliki kepercayaan yang berbeda dan tidak mempercayai hal itu (berbeda agama maka beda pula cerita yang dicerita-kan agama masing-masing), sehingga lebih menyukai pemakaian “Ahad” dari pada “Minggu”.

Sumber:
http://library.thinkquest.org/28906/meanings_of_the_names.htm
http://haxims.blogspot.com/2009/09/asal-usul-nama-hari.html
http://konsultasipelajar.blogspot.com/2010/01/nama-hari-nama-berhala.html

Baca selengkapnya......
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...